Beberapa hari sejak balapan mematikan "Cepat ke Sadis" dimana pihak Teddy kalah yang mengakibatkan Teddy lengser, BIGSOME berniat melakukan perang penghabisan yang mengharapkan perginya para SISWA XII grade dari dimensi 48. "Urusan dunia di dimensi ini sudah tidak penting... Dengan ini sudah seharusnya mereka lenyap dari sini," ucap Idris sang KEPSEK sebelum memulai briefing perang yang mereka sebut RAGNAROK. Para GURU melakukan rapat itu dengan sungguh-sungguh karena ini adalah pertarungan yang penting demi menuju masa depan yang mereka harapkan. "Ayo kita mulai perangnya!"
Para GURU langsung maju di garis depan. Karena ini misi terakhir, mereka berpikir akan lebih baik kalau mereka langsung menjalankannya. Beberapa melepaskan beberapa serangan mendadak sehingga beberapa SISWA tidak memiliki kesempatan untuk bertarung. Ari dan Teddy yang sedang beradu mulut gugur, Muhgi beserta Kinon dan Fajar gugur, Ardhana dan Dimas yang sedang berjaga gugur, Odi dan Dhana pun terkena secara tidak sengaja. Mereka tidak bisa bertempur karena harus memulihkan diri. Para SISWA dari tiap sektor membentuk barisan untuk menghadapi para GURU yang memberikan serangan fajar. Sektor A1 yang dipandu oleh Dozo, A2 yang dipimpin Maya, duo Maya mereka. A3 dibelakang KR, A4 dibalik KP, dua orang WAHMILY, sementara A5 dibawah Fajar Achmadi. Para pemegang gelar SOS menyatukan kekuatannya sebagai satu fraksi. Dengan berkumpulnya mereka, Ragnarok pun dimulai. "FIRE IN THE HOLE!!!"
Para GURU yang bertanggung jawab atas misi ini adalah Haye, Sugi, Rita, Euis, Taruli, Heni, Dewi, Riana, Sensei, Purwanto, serta Sri Mulyono. Mereka melakukan peperangan sementara GURU yang lain sedang mengurusi misi masing-masing. Tidak berbeda dengan biasanya, peperangan ini terjadi dengan primitif dengan prinsip habisi musuh dengan cara frontal. Setelah berlangsung selama beberapa jam, para GURU merasa lelah dan sudah kehabisan banyak tenaga. Dan sesuai dengan rencana mereka, mereka menggunakan kartu as mereka, UAS (Underground Alien Sefer), monster mirip alien yang berkaca mata, berkulit hitam, berkumis, berego tinggi, lawakan yang garing, nada bicara yang menyebalkan, dan sifat serta tampilan fisik para GURU yang berpartisipasi. Bayangkanlah sendiri semenakutkan apa wujudnya.
"Huh, seperti dua tahun lalu ya..." ujar David. "Sepertinya mereka butuh bantuan," ucap Ibnu. "Lenyapkan saja," ucap John yang membawa Tiara Buster, sebuah senjata kuno yang mengakhiri perang dua tahun yang lalu. "Ingin menembakkannya sekali lagi, ZIZ?" tanya Willy. ZIZ yang sejak tadi mengobservasi peperangan dengan teropong milik David menjawab, "aku ingin menyimpan tenaga untuk pertarungan setelah ini, firasatku tidak enak." ZIZ melihat ada yang tidak wajar. "Biar aku saja!" tawar Ardhie. Setelah pembicaraan panjang, akhirnya diputuskan kalau yang akan menembak adalah Ardhie, Yudi, dan Ovid. Mereka kini menanti saat yang tepat untuk menembakkannya.
Para SISWA yang sedang berperang menggunakan jurus-jurus terkuat mereka sehingga monster UAS hanya bisa meronta tanpa perlawanan. "Sudah saatnya!" Ardhie, Yudi, dan Ovid mencharge Tiara Buster dengan tenaga dari device mereka. Dalam hitungan detik, Tiara Buster sudah siap untuk ditembakkan. "Satu... Dua... Tiga!!!" Bersamaan dengan ditembakkannya Tiara Buster, ZIZ melempar sebuah bom yang terbawa oleh tembakkan tersebut. "Japon Bomb..." Tembakan itu mengenai monster UAS tepat di jantungnya. Japon Bom itu pun meledak sehingga monster UAS itu hancur terburai bagai petasan banting yang dibanting. Nggak mungkin dimakan toh. Dari kumpulan daging dan darah muncul tampilan hologram para GURU yang sedang berbaris.
"Selamat, dengan ini perang telah berakhir."
"Maafkan kami kalau kami melakukan hal-hal tak pantas, tapi itu demi kebaikan kalian juga."
"Dengan ini, kalian pasti akan bisa bersaing di jenjang berikutnya."
"Semoga kalian sukses!"
Para SISWA terharu mendengarnya. Salah satu dari mereka mengucapkan, "sebenarnya kami sadar kalau itu demi kebaikan kami, tapi karena kami belum cukup kuat, kami jadi tak tahan dan terpaksa membenci kalian... Maafkan kami... Dan... Terima kasih! Budi kalian takkan kami lupakan!"
Para GURU tersenyum. Perlahan hologram itu menghilang diiringi lagu Hymne Guru dan derai air mata SISWA. Dengan ini, mereka semua pun lulus ujian. Terima kasih, bapak dan ibu guru...
"Dengan ini dunia damai ya?" ujar Ibnu. "Yah, setidaknya untuk beberapa saat kita bisa santai!" kata ZIZ. Mereka pun berjalan meninggalkan tempat yang melatih mereka selama tiga tahun.
"Hahaha! Terima kasih kalian yang bodoh ini sudah mau membereskan mereka!" kata seseorang dengan nada lantang. "Kau... Khaled!" kata David tegang. "Bisa apa kau sendirian?" tantang Ardhie. Khaled memanggil kaki-tangannya. "Kalian akan habis hari ini..." "Keberadaan penyimpangan seperti kalian harus lenyap!" Dua orang muncul. "Qbenk... Anita!?" ZIZ dan David terbelalak. "Ini akan menarik," ucap ZIZ.
Para GURU langsung maju di garis depan. Karena ini misi terakhir, mereka berpikir akan lebih baik kalau mereka langsung menjalankannya. Beberapa melepaskan beberapa serangan mendadak sehingga beberapa SISWA tidak memiliki kesempatan untuk bertarung. Ari dan Teddy yang sedang beradu mulut gugur, Muhgi beserta Kinon dan Fajar gugur, Ardhana dan Dimas yang sedang berjaga gugur, Odi dan Dhana pun terkena secara tidak sengaja. Mereka tidak bisa bertempur karena harus memulihkan diri. Para SISWA dari tiap sektor membentuk barisan untuk menghadapi para GURU yang memberikan serangan fajar. Sektor A1 yang dipandu oleh Dozo, A2 yang dipimpin Maya, duo Maya mereka. A3 dibelakang KR, A4 dibalik KP, dua orang WAHMILY, sementara A5 dibawah Fajar Achmadi. Para pemegang gelar SOS menyatukan kekuatannya sebagai satu fraksi. Dengan berkumpulnya mereka, Ragnarok pun dimulai. "FIRE IN THE HOLE!!!"
Para GURU yang bertanggung jawab atas misi ini adalah Haye, Sugi, Rita, Euis, Taruli, Heni, Dewi, Riana, Sensei, Purwanto, serta Sri Mulyono. Mereka melakukan peperangan sementara GURU yang lain sedang mengurusi misi masing-masing. Tidak berbeda dengan biasanya, peperangan ini terjadi dengan primitif dengan prinsip habisi musuh dengan cara frontal. Setelah berlangsung selama beberapa jam, para GURU merasa lelah dan sudah kehabisan banyak tenaga. Dan sesuai dengan rencana mereka, mereka menggunakan kartu as mereka, UAS (Underground Alien Sefer), monster mirip alien yang berkaca mata, berkulit hitam, berkumis, berego tinggi, lawakan yang garing, nada bicara yang menyebalkan, dan sifat serta tampilan fisik para GURU yang berpartisipasi. Bayangkanlah sendiri semenakutkan apa wujudnya.
"Huh, seperti dua tahun lalu ya..." ujar David. "Sepertinya mereka butuh bantuan," ucap Ibnu. "Lenyapkan saja," ucap John yang membawa Tiara Buster, sebuah senjata kuno yang mengakhiri perang dua tahun yang lalu. "Ingin menembakkannya sekali lagi, ZIZ?" tanya Willy. ZIZ yang sejak tadi mengobservasi peperangan dengan teropong milik David menjawab, "aku ingin menyimpan tenaga untuk pertarungan setelah ini, firasatku tidak enak." ZIZ melihat ada yang tidak wajar. "Biar aku saja!" tawar Ardhie. Setelah pembicaraan panjang, akhirnya diputuskan kalau yang akan menembak adalah Ardhie, Yudi, dan Ovid. Mereka kini menanti saat yang tepat untuk menembakkannya.
Para SISWA yang sedang berperang menggunakan jurus-jurus terkuat mereka sehingga monster UAS hanya bisa meronta tanpa perlawanan. "Sudah saatnya!" Ardhie, Yudi, dan Ovid mencharge Tiara Buster dengan tenaga dari device mereka. Dalam hitungan detik, Tiara Buster sudah siap untuk ditembakkan. "Satu... Dua... Tiga!!!" Bersamaan dengan ditembakkannya Tiara Buster, ZIZ melempar sebuah bom yang terbawa oleh tembakkan tersebut. "Japon Bomb..." Tembakan itu mengenai monster UAS tepat di jantungnya. Japon Bom itu pun meledak sehingga monster UAS itu hancur terburai bagai petasan banting yang dibanting. Nggak mungkin dimakan toh. Dari kumpulan daging dan darah muncul tampilan hologram para GURU yang sedang berbaris.
"Selamat, dengan ini perang telah berakhir."
"Maafkan kami kalau kami melakukan hal-hal tak pantas, tapi itu demi kebaikan kalian juga."
"Dengan ini, kalian pasti akan bisa bersaing di jenjang berikutnya."
"Semoga kalian sukses!"
Para SISWA terharu mendengarnya. Salah satu dari mereka mengucapkan, "sebenarnya kami sadar kalau itu demi kebaikan kami, tapi karena kami belum cukup kuat, kami jadi tak tahan dan terpaksa membenci kalian... Maafkan kami... Dan... Terima kasih! Budi kalian takkan kami lupakan!"
Para GURU tersenyum. Perlahan hologram itu menghilang diiringi lagu Hymne Guru dan derai air mata SISWA. Dengan ini, mereka semua pun lulus ujian. Terima kasih, bapak dan ibu guru...
"Dengan ini dunia damai ya?" ujar Ibnu. "Yah, setidaknya untuk beberapa saat kita bisa santai!" kata ZIZ. Mereka pun berjalan meninggalkan tempat yang melatih mereka selama tiga tahun.
"Hahaha! Terima kasih kalian yang bodoh ini sudah mau membereskan mereka!" kata seseorang dengan nada lantang. "Kau... Khaled!" kata David tegang. "Bisa apa kau sendirian?" tantang Ardhie. Khaled memanggil kaki-tangannya. "Kalian akan habis hari ini..." "Keberadaan penyimpangan seperti kalian harus lenyap!" Dua orang muncul. "Qbenk... Anita!?" ZIZ dan David terbelalak. "Ini akan menarik," ucap ZIZ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar