Minggu, 21 September 2014

Zadoy Chronicle X - 2

Tenonetnonetterongterong turungtungtung tulutungtung.

Suara dentuman bel pun menggelegar, menandakan perang yang akan dimulai. Para pejuang mengandalkan senjata masing-masing, bermacam-macam jenisnya. Ada yang membawa Ecchi-Pii, juga ada yang membuat Shal-Inan. Namun ada juga yang berani maju hanya dengan persiapan mental dan tekad. Di barisan musuh terdapa beberapa GURU yang mengurus di tiap sektor. Perang pun dimulai.

Beberapa saat sebelum itu, Sudoyo dan Heni mendatangi beberapa sektor untuk memberikan semangat kepada para SISWA yang akan berperang melawan GURU dari dunia lain. "Jangan mempermalukan kami, kami yakin, kalian yang pernah mengalahkan kami pasti bisa menghadapi mereka," ucap Sudoyo. Para SISWA pun menjawabnya dengan senyuman dan kini mereka siap untuk berperang.

"Bahasa Indonesia?"

"Ini akan sulit..."

Beberapa SISWA sedikit terguncang melihat ilmu aliran Bahasa Indonesia yang dikeluarkan para GURU dari dunia lain itu. Tulloh, Anto, Jodi, dan Ardhie memlakukan perlawanan yang cukup berarti. Begitu pula dengan orang-orang sektor lain, mereka pun berhasil melewatinya tanpa luka yang berarti. "Ini sulit..." ZIZ dan David sulit sekali melawannya. Mereka seakan tak mampu berbuat apa-apa selain mengalirkan keringat dingin, walaupun pada akhirnya beberapa orang memberi bantuan sehingga para GURU itu pun berhasil ditaklukkan. "GURU keriting, akan kuingat kau..."

Yang menanti mereka setelah itu adalah Biologi. Banyak SISWA yang nyaris gugur saat itu. Mereka hanya bisa pasrah. Bahkan ada seseorang dari sektor A4 yang terkena telak oleh serangan sang Keriting. Benar-benar keadaan yang menyedihkan. Tak ada penyelamat pada saat itu. "Kali ini aku mati..."

"Skenario yang buruk untuk dua pertempuran tadi..." ucap Willy. "Luka yang kami alami cukup parah," ucap Simon. "Tenang saja, masih ada hari esok," ujar John. Kekecewaan terlihat dari wajah sebagian besar SISWA. Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Para SISWA pun mempersiapkan diri untuk pertarungan yang akan datang.

"Lagi-lagi kau hanya membaca itu ya?" ujar Vincent meledek David yang sedang membaca komik. David hanya bisa terdiam dan terus membaca. Merasa kesal karena didiamkan, Vincent mengambil komik itu dan membuangnya sehingga David kesal dan memberikan perlawanan. "Kau yang hanya membaca sampah seperti itu mana bisa mengalahkan aku?" ujar Vincent yang dengan mudahnya menjatuhkan David. "Kau terlalu meremehkan hakikat komik!" ucap seseorang. "Kau... Dhoni!?" ucap Vincent. Dhoni yang tidak tahan melihatnya langsung melesat dan memukul Vincent sekali. "Kuat sekali!" "Kau yang tidak pernah membaca komik tidak tahu apa-apa..." "Bagaimana mungkin kau yang selalu membaca sampah itu bisa sekuat ini!?" BUAGH! Kini Vincent ditendang hingga terpental. "Karena kau lemah..." Vincent pun lari dari sana. "Siapa bilang kau bisa pergi?" ucap seseorang. "Terima ini!!!" Ibnu langsung menendang bokong Vincent dan ZIZ yang tiba-tiba ada di depan Vincent mengarahkan ujung pistolnya ke wajah Vincent. Vincent sudah tak berdaya. "Pergilah..." ucap ZIZ sembari melangkah ke samping. Vincent langsung lari dan ditembak dengan peluru karet oleh Dhoni. "Lihat saja nanti!!!" teriak Vincent. "Kuharap kau lenyap," ucap David.

Setelah itu, mereka berempat pergi ke tujuannya masing-masing untuk mempersiapkan diri menghadapi pertempuran selanjutnya. Namun David dan Dhoni yang kebetulan berjalan searah dijebak oleh Yudha yang sejak tadi melihat kejahatan mereka. "Yudha!" teriak Dhoni. "Ini lagi..." ucap David yang merasa malas melihat Yudha. Yudha pun tertawa. "Akhirnya aku bisa membawa kalian ke markas dan keberadaanku akan lebih diangap!" teriaknya dengan penuh rasa senang. "Terserah deh..." Mereka berdua pun digiring menuju markas besar sektor A1.

Tidak ada komentar: