Minggu, 21 September 2014

Zadoy Chronicle X - 15 (Last)

Teddy dan Ari yang telah bangkit setelah terinjak-injak sekian lama mengeluarkan asap hitam dari lubang-lubang di tubuh mereka. Asap hitam itu perlahan membentuk sebuah kapal besar dengan wajah Ari di depannya. Mereka berdua melompat ke atas kapal dan mulai bicara.

"Para makhluk 48, kalian akan tunduk pada Generasi Hitam!"

Teddy dan Ari mendeklarasikan bangkitnya kelompok mereka yang mereka sebut Generasi Hitam.

"Itukah orang yang kita dukung untuk jadi pemimpin?" gumam Hendi dan Robi. Mereka berdua berhenti bertarung dan pergi ke bawah kapal Teddy dan Ari. Di lain tempat Ovid dkk juga bergerak ke tempat itu. ZIZ juga kesana. Abi dan Khaled yang sempat tumbang bangkit dan mencoba untuk melawan dua penjahat itu.

"All-out battle, huh?" ujar Khaled

Teddy dan Ari menembakkan seluruh senjata mereka. Ledakan besar pun terjadi.

"Hahaha, itulah yang terjadi kalau membuat kami marah!" Teddy tertawa keras seiring peluru meriam yang dia tembakkan meluluhlantahkan bangunan di sekitar mereka.

"Jangan takut, semuanya..." kata Khaled yang tengah melihat Teddy dengan tatapan penuh keyakinan. Dia berusaha untuk membangkitkan moral yang lain agar mau ikut bertarung melawan Generasi Hitam.

"Tentu saja!" Mereka semua menunjukkan siapa diri mereka. Khaled berhasil memancing semangat mereka.

"Dengan teman sebanyak ini, tak ada alasan untuk takut," ucap Abi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat teman-temannya berdiri untuk melawan.

Khaled tersenyum. "Walaupun aku sudah putus, di tangan dan dada ini, kenangan hari-hari itu terus hidup!" Khaled mengepalkan tangan kanannya dan menaruhnya di dada sebelah kiri.

Mereka semua pun tersenyum. "Kalian pikir, kalian berdua itu apa!?" teriak mereka pada Teddy dan Ari.

"Dia sudah putus!?" kata ZIZ terkejut.

"Teman-teman, bantu aku mengalahkan mereka!" pinta Khaled. "Berikan tenaga kalian!"

Mereka semua mengangkat tangan. Semua energi mereka berkumpul di kacamata Khaled.

Teddy dan Ari terus menembakkan meriamnya. Serangan mereka difokuskan ke arah orang-orang yang tengah menghadapi mereka. Teddy melihat Khaled yang dipenuhi cahaya.

"Apapun yang kalian lakukan itu percuma!" Teddy melepas kacamatanya untuk dilemparkan ke arah Khaled.

"Takkan kami biarkan!" Abi menangkis serangan Teddy.

Ari tidak tinggal diam. Mulut wajahnya yang berada di depan kapal terbuka dan menembakkan cahaya ke arah orang-orang yang melawan mereka. "Kalian semua tidak ada apa-apanya! Menyerah saja!"

Abi dan teman-teman menahan serangan tersebut, menunggu sampai Khaled mampu memberikan serangan balasan.

"Terima kasih teman-teman. Kalian bisa mundur sekarang," kata Khaled dengan percaya diri. Energi yang dikumpulkan sudah dirasa cukup untuk mengakhiri nasib Generasi Hitam.

"Serangan penghabisan! Kacamata Autizer!" Khaled memusatkan tenaga di kacamatanya dan menembakkan seluruh energi itu ke arah Teddy dan Ari. Cahaya yang ditembakkan Ari beradu dengan serangan Khaled.

"Mereka bisa melawan Meriam Hitam andalanku!?" Ari tidak bisa menerima kenyataan kalau senjata terhebatnya mampu dilawan oleh satu orang.

"Tenang saja, aku akan membantumu," kata Teddy sambil bersiap untuk menyerang Khaled. Baru meninggalkan kapalnya, dia langsung ditahan oleh Abi dan David.

"Apanya yang Generasi Hitam?" ledek Abi.

"Kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan kami-kami ini!" seru David.

"Kurang ajar!!!" Teddy menyerang David dan Abi dengan membabi-buta sehingga kedua orang itu terpental. Tanpa ragu, Teddy langsung mencoba menghabisi dua orang lawannya.

"Terlalu cepat..."

Tubuh Teddy terpental ke atas dan menabrak kapal Generasi Hitam.

"A-apa...?"

David berhasil menyerang Teddy dengan melempar tubuh Abi yang dikeraskan. Teddy tidak terima karena dilukai oleh dua orang itu dan menyerang David. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini David dapat mengimbangi Teddy.

"Bagaimana mungkin!?"

"Kau memang kuat. Tapi ada satu kesalahanmu, kau terlalu memandang remeh lawanmu."

Listrik mengelilingi tubuh David. "Dengan ini, aku akan menyetrummu dengan penuh kasih sayang."

Mereka berdua beradu kesaktian di udara. Ledakan listrik terlihat tiap mereka saling memukul.

"Jangan buang-buang waktu lagi." Terdengar suara dari bawah. Tiba-tiba ada yang menyerang Teddy dengan cepat dari bawah. Setelah itu Teddy dijadikan bulan-bulanan oleh dua orang yang tiba-tiba muncul di sana. Sampai akhirnya Teddy dilempar ke arah kapal lagi.

"Siapa kalian...?"

Di hadapannya tampak sosok Ovid, Ardhie, dan ZIZ. "Hehe..."

"Bagaimana mungkin kalian semua bisa menyerangku sampai begini...!?" tanya Teddy yang menatap tiga orang itu dengan murka.

"Saat-saat yang pernah kita lalui bersama memang indah..." ujar Ovid.

"Bahkan aku ragu kalian saling mengenal," kata ZIZ dengan wajah tidak percaya ke arah Ovid.

"Wah, mereka saling kenal cuy, jangan salah!" kata Ardhie.

"Teddy itu temen deket dia!" tambah David.

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Teddy.

"Kau pikir hanya kau yang menguasai Teknik Kacamata?" tanya David sambil melepaskan kacamatanya dengan elegan.

"Simpan saja omong kosongmu!" Teddy mencoba bangun untuk menyerang David, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah.

David melempar kacamatanya seperti yang Teddy lakukan tadi. Hanya saja, lemparan David jauh lebih kuat sehingga kacamatanya menjadi dua dan mengunci tubuh Teddy di kapal.

Sementara itu, Khaled dan teman-teman berhasil mendorong serangan dari Ari.

"Tidak mungkin!"

Serangan Khaled bertambah kuat dan menghancurkan kapal Generasi Hitam. Dengan seluruh serangan itu, Teddy dan Ari pun takluk.

"Generasi Hitam hanya sampai di sini!"

Perang melawan dua makhluk pesugihan itu pun berakhir. Semua orang merayakan kemenangan mereka. Tidak ada yang memasang wajah lain selain wajah gembira, bahkan yang lukanya paling parah sekalipun.

"Pertarungan ini memang sudah berakhir, tapi perjalanan hidup kita belum berakhir," ucap Khaled.

"Benar, kita punya jalan masing-masing," jawab Abi.

Mereka berdua menyilangkan tangan tanda bangga akan satu sama lain.

Sementara itu...

"Kita mau kemana sekarang?" tanya David kepada Ardhie yang berjalan paling depan.

"Ada yang ingin aku ambil dari Teddy," jawab Ardhie.

"Ah, aku juga," sahut ZIZ.

"Kalau begitu aku berkumpul dengan yang lain dulu ya," kata Ovid dan meninggalkan mereka.

"Oke, sampai jumpa lagi," kata Ardhie.

Ketiga orang itu memburu harta karun milik Teddy yang memang sejak awal mereka incar.

Setelah puas merayakan kemenangan, Khaled dan teman-teman kembali ke tempat masing-masing. Perasaan senang dan bahagia tak bisa mereka tahan, air mata tanda bahagia pun mengalir begitu saja. Di bawah langit senja, mereka pun pergi menjalani jalan hidup masing-masing dengan penuh harapan.

"Sampai berjumpa lagi, kawan."

-TAMAT-

Zadoy Chronicle X - 14

Chitoy terkejut melihat tubuh Awe yang setengahnya adalah baja. Itu menjawab pertanyaan mengapa sejak tadi Awe tidak terluka karena serangannya. "Sama seperti Yudi!?" kata Tulloh. "Lihat kemana kau!?" Joce berhasil memberikan pukulan telak kepada Tulloh yang meleng sebentar. "Lawanmu adalah aku, tak perlu kau urusi yang disana," kata Joce mantap. Tulloh yang terjerembab berdiri dengan perlahan. "Sialan..." Belum sempat Tulloh berdiri, Joce sudah menendang wajahnya. Sekali lagi Tulloh terjerembab. "Bajingan!!!" Chitoy yang emosi melihat temannya diperlakukan seperti itu berlari ke arah Joce dengan tangan yang membara. "Mau apa kau?" Dari belakang Awe menusuk Chitoy. "Lawanmu itu aku, kenapa malah menyerang Joce?" tanya Awe di hadapan Chitoy yang bersimbah darah. "Gawat..." Anto tinggal sendiri. Bergetar melihat kedua temannya dikalahkan begitu mudah. "Mampus kau..."

Ovid bersama JaH, Ardhie, David, dan Yudi yang sudah menyelesaikan tugas mereka kini berjalan tak tentu arah. "Kemana kita pergi?" tanya Ovid. "Ke arah angin berhembus..." jawab JaH. Mereka berjalan melalui jalan kecil di dekat sebuah warung. Setelah berjalan beberapa meter, tiba-tiba ada orang terpental di depan mereka. "Huwaaa!!!!" Mereka melihat siapakah orang itu, rupanya Anto. Dari arah yang berlawanan mereka melihat ada Joce dan Awe yang sedikit kelelahan. "Tidak kusangka mereka bisa membuat kita kesulitan..." ucap Awe. Joce mengangguk tanda setuju. Ovid dkk terdiam.

"WOW!!!" Dari atas tembok datang seseorang. "Siapa yang mengacau disini!?" tanya orang itu. "Kau... Dhoni!" kata Joce. "Kalian semua... mengganggu tidurku saja..." kata Dhoni menghadap ke arah Ovid dkk. Joce dan Awe tersenyum sementara Ovid dkk panik. Di tengah kepanikan itu, David menyodorkan sesuatu pada Dhoni. "Komik, Dhon," kata David. Dhoni mengambil komik itu, lalu tersenyum. "Kalian yang berulah," kata Dhoni menghadap ke arah Joce dan Awe. Senyum di muka mereka berdua hilang. Dhoni pun melesat ke arah Joce dan melumpuhkannya sekali serang. Awe yang merasa tak mungkin mengalahkan Dhoni membopong Joce dan pergi. "Mengganggu saja..."

Robi dan Hendi bertemu di medan perang sebagai lawan. "Menyingkir kau! Aku akan membantu RAJA yang baru!!!" kata Hendi yang terus menghantam tubuh Robi dengan kedua tangannya yang kuat. Meskipun begitu, Robi yang lebih kuat bisa menahannya dengan mudah. Kekuatan mereka nyaris seimbang. "RAJA yang baru? Teddy? Tidak mungkin! RAJA yang baru pastilah Ari!" bentak Robi. Hendi merasa tersinggung dengan ucapan Robi dan menyerang dengan membabi-buta. Pukulan mereka pun beradu. "Mereka keasikan sendiri... Yah, untuk sementara aku aman deh..." ucap ZIZ yang perlahan menyingkir dari sana. "Hah?" Tiba-tiba ZIZ merasa ada yang menariknya ke dalam dimensi lain. "Perasaan ini... mungkinkah..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, ZIZ sudah terhisap ke dalam lubang dimensi.

"Barrier Area..." ZIZ mengeluarkan pembatas di sekitarnya. "Apa lagi sih?" gumamnya. Tanpa disadari, ada dua makhluk yang sudah melewati pembatas itu. "Siapa kau?" tanya ZIZ. "Kau yang siapa!?" jawab orang itu. "Seenaknya saja masuk!" kata ZIZ. "Keluar kalau kau berani!" tantang orang itu. ZIZ yang terbawa emosi pun keluar dari pembatas tingkat dua. ZIZ merasa malas melihat kedua makhluk itu. Mereka adalah Anita dan seorang temannya yang tidak jelas apa. Anita membentak-bentak ZIZ yang sesekali disanggah oleh ZIZ. Setelah beberapa kali disanggah, Anita bertambah kesal sehingga menampar ZIZ namun setelah tangan itu mengenai ZIZ sedikit, tangan kiri ZIZ menahannya sehingga tamparan itu hanya terasa seperti disentuh, sama sekali tidak sakit. Anita menarik tangannya dan menendang ZIZ tapi dapat ditangkis dengan tangan kiri lagi. Adu mulut pun terjadi di antara mereka. Teman Anita itu mengaku dia hanya penengah. "Apanya yang penengah? Makhluk yang pernah terang-terangan cari perkara denganku ini pasti bala bantuan," pikir ZIZ. "Kalau dia tidak ada, kau sudah kuhabisi!" kata Anita dengan kasar. "Buktikan!" kata ZIZ. "Beraninya hanya dengan wanita! Banci!" ejek Anita. "Siapa yang nantang?" tanya ZIZ yang sedikit menahan tawa mendengar ucapan Anita yang tidak rasional. "Aku yang nantang!" bentak Anita. "Maju sini!" tantang ZIZ. Anita sekali lagi mengayunkan tangannya untuk menyerang ZIZ namun dapat terlanjur ditahan lebih dahulu. Tangan Anita meronta agar dilepaskan dari cengkeraman ZIZ. Teman Anita itu menyuruh ZIZ untuk melepaskannya. "Salah apa aku sampai mengalami ini?" tanya Anita. "Pikir saja sendiri!" kata ZIZ. "Kau sendiri yang mengundang masalah ini," batin ZIZ. "Asal kau tahu saja ya, aku sudah tak menganggapmua pacar sahabatku!" ancam Anita. "Sejak awal juga sudah dianggap bukan apa-apa," kata ZIZ. Anita pun terdiam. "Terima kasih buat waktunya, terima kasih juga sudah menangkal tamparanku. Ingat, masalah ini belum selesai!" kata Anita dan pergi dengan temannya. "Yaya, apapun katamu, tidak usah kembali saja, mati saja sekalian," ucap ZIZ. ZIZ pun kembali ke tempat semula.

Khaled dan Abi masih asik bertarung. Keduanya walaupun bersimbah darah tetap melanjutkan pertarungan. Khaled berhasil membuat Abi terluka parah meskipun sudah banyak darah yang keluar dari kepalanya. Abi terus bertarung meskipun sudah lemas. "Mampus kau!" teriak Abi an mengayunkan tangannya ke arah perut Khaled. Khaled berhasil menghindarinya dan sukses memukul wajah Abi. Abi pun terpental. Berdiri saja sulit untuk Abi. Dia berjalan terseok-seok. "Abi! Jangan kalah!" "Khaled! Habisi dia!" Teriakan para supporter pun semakin kencang. Suara mereka memberikan semangat pada mereka berdua. Khaled mengepalkan tangannya dan memberikan serangan terakhirnya. Belum sempat menyelesaikan pertarungan, mereka sudah habis oleh sebuah serangan yang berasal dari tempat Ari dan Teddy berdiri. Para penonton pun terdiam. "Teddy Ari! Teddy Ari!" Kini mereka menyoraki Teddy dan Ari, dua orang yang mengaku akan menjadi RAJA yang baru. "Aku adalah RAJA kalian yang baru, Generasi Hitam!"

Zadoy Chronicle X - 13

Pertarungan Khaled dan Abi berlangsung seru. Keduanya mengeluarkan serangan pamungkasnya masing-masing. Keadaan pun dibuat lebih ramai oleh massa di sekitar yang saling beradu jotos, mempertaruhkan keberuntungan dan uang masing-masing untuk Abi maupun Khaled. Di tengah-tengah tawuran itu, Teddy dan Ari menjadi bulan-bulanan massal. Membuat pendukung mereka sedikit sedih, tidak, benar-benar sedih. "Teddy~!!!" teriak Nanda dan Hepi yang berlinang air mata. Teddy yang tersiksa tak bisa mendengar suara mereka. Yang dia rasakan hanya sebuah rasa hangat, atau lebih tepatnya panas karena diserang dari berbagai arah.

"Khaled!!!!" "Abi!!!!!" Mereka berdua menyerang satu sama lain dengan kekuatan penuh. Pertarungan mereka benar-benar dahsyat. Orang-orang di sekitar mereka merasakan adanya angin di tiap serangan mereka. Angin semangat. "Abi berhasil memukul dada Khaled. Khaled pun berhasil menendang perut Abi kemudian melemparnya. Abi yang jatuh ke tanah menahan tubuhnya dengan tangan kanannya dan berlari ke arah Khaled. Saking semangatnya, Abi mengeluarkan aura berwarna hijau. Khaled pun demikian. Dia mengeluarkan aura berwarna merah. Mereka pun bertabrakan hingga terjadi tekanan yang sangat kuat sehingga orang-orang di sekitar mereka sampai terdorong cukup jauh. "Hebat sekali..." ZIZ tercengang. "Inikah orang yang selama ini tidak kita perhatikan?" tanya Ibnu. "Sepertinya kita terlalu meremehkan mereka..." ujar ZIZ.

Terhempas akibat beradunya Khaled dan Abi, Teddy dan Ari tenggelam di selokan. Mereka meronta-ronta untuk naik ke atas. Setelah berusaha mati-matian untuk naik selama lima menit, akhirnya mereka bisa menghirup udara segar lagi. Hendi membantunya untuk naik. "Kau tidak apa-apa, paduka Teddy?" tanya Hendi. "Aku sedikit tersinggung..." ucap Teddy yang sedikit marah. Hendi pun berbalik badan dan bermaksud untuk menghentikan pertarungan Khaled dan Abi. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya ZIZ yang berdiri di depannya. Hendi sang Pembalas Dendam berhenti melangkah. "Tidak bisakah kau melihat orang-orang ini senang sebentar?" ucap ZIZ sambil melihat orang-orang yang masih menyoraki Abi dan Khaled. "Kau!!!" Hendi mulai melangkah. Tiba-tiba ada tembakan dari atas, menghentikan langkah Hendi. Orang itu pun mendarat. "Takkan kubiarkan kau menyentuh Khaled sedikitpun," ucap orang itu. "Robi!?"

Herda berkali-kali mencoba menyerang JaH, namun sia-sia karena selain tubuhnya yang besar namun lambat, tekniknya tidak sehebat lawannya. JaH yang merasa bosan berlari berputar-putar, Herda pun mengikutinya. "Aku bertaruh kau takkan bisa mengikutiku!!!" teriak JaH dengan mantap. Belum lama berlari, Herda sudah sulit bernapas dan berhenti berlari. "Hosh hosh... Sialan..." katanya dengan nafas tersengal. "Mampus!!!" Ardhie yang sudah bangkit memukul Herda. "Pertarungan dua gumpalan daging..." komentar David yang juga sudah sadar. "Haruskan kita bantu Ovid?" tanya Yudi. "Tidak perlu, karena ini adalah pertarungan yang harus dia selesaikan sendiri..." ucap David melirik ke arah Ovid yang beradu dengan Kyo. "Camera Buster kita sama kuat ya..." ucap Kyo. "Hentikanlah!" teriak Ovid. Kyo terus menyerang Ovid, hingga akhirnya senjata mereka berdua menjepret satu sama lain. Kyo mendadak menjadi lemas. Ovid menahan tubuhnya. "Syukurlah kau sudah sadar..." ucap Ovid. "Ovid... Maaf..." ucap Kyo. Fajar tak berdaya ketika harus menghadapi David dan Yudi dan memilih untuk menyerah. Herda pun sudah kalah di tangan Ardhie. Tubuhnya ditenggelamkan selokan Pinang Ranti Road agar jiwanya tenang. "Aku belum mati sial!" kata Herda.

"Ilmu aliran Hukum! Pasal-pasal!!!" Tulloh menyerang Joce dengan serangan andalannya. Joce berhasil menghindari serangan itu dan memberikan serangan balasan. "Integral!!!" Tulloh terdorong sedikit namun berhasil mematahkan serangan itu dan berlari menyerang Joce. Joce menahan pukulan Tulloh dan memberikan serangan balasan yang berhasil ditangkis oleh Tulloh. Petir bagai menyambar mereka tiap serangan mereka beradu. Awe melawan Chitoy dengan ilmu yang dia miliki. Chitoy yang lincah dengan mudahnya dapat menghindari serangan Awe dan berhasil memukul wajahnya. "Tidak mempan!?" Chitoy pun menunduk dan menendang sebelah kiri perutnya. "Keras sekali!!!" Chitoy pun mundur beberapa langkah. "Kau memang cepat, tapi kau kurang mengetahui luasnya dunia..." Awe pun melepas jaketnya. Terlihat kalau beberapa bagian tubuhnya terbuat dari baja. "Kau... Sialan..."

Zadoy Chronicle X - 12

Khaled terhenti oleh gerombolan pionir A1 di ujung Pinang Ranti Road. Kedua orang yang memperebutkan gelar RAJA, Teddy dan Ari pun muncul. Keadaan makin pelik bagi Khaled. Dia bingung apakah harus menghadapi prajurit A1 atau Teddy dan Ari lebih dahulu. Sementara itu, fraksi Tulloh yang telah bertemu dengan Jodi dihadang oleh Awe dan Joce. Tak jauh di belakang mereka, Kyo, Fajar, dan Herda yang sudah menyiksa David, Ardhie, dan Yudi menghadapi Ovid beserta JaH dan beberapa temannya. Qbenk yang selesai diarak telah tersadar dan kini sedang melakukan konvoi bersama member SOLID yang lain. Setelah mengalahkan Farid, Bamby bertemu dengan Khairani dan bergerak menuju tempat Jeihan dan Ovid berada. ZIZ dan Ibnu bersama pasangannya masing-masing berjalan dengan santai melalui jalan memutar agar langsung bertemu Khaled tanpa melawan kaki-tangannya.

"Hei, tidak salah nih?" tanya Nanda. "Tidak, asal Teddy tidak lengser, semuanya baik-baik saja," jawab Hendi. "Aku agak ragu," ujar Hepi. Mereka bertiga membangun sebuah patung berbentuk tuyul yang tidak jelas asal-usulnya. Diperkirakan itu adalah patung Teddy, orang yang menurut mereka akan menjadi raja. Sejak saat itu, mereka mulai mengerjakannya dan kini patung itu hampir rampung.

"Kalian mau lewat?" tanya Joce dengan ekspresinya yang biasa. "Diamlah dan buka jalan!" ucap Chitoy lantang. "Atau kau mau merasakan kekuatan kami?" ancam Tulloh yang mengeluarkan diagram sihir Ilmu Hukum. Awe pun mengeluarkan aura hitam dari kedua kakinya. "Sepertinya kalian tidak terlalu kuat," ujar Awe. Tulloh dkk tersinggung dan menyerang kedua orang di depannya. "Begitu dong!" Tulloh mengadu kesaktiannya dengan Joce. Rangkaian Ilmu Hukum melawan Ilmu Matematika. Awe melawan Chitoy dengan pertarungan tangan kosong. Anto hanya memberikan support dengan rangkaian mantra yang tidak jelas bunyinya.

"Herda, majulah duluan," kata Kyo yang entah kenapa kehilangan semangat bertarung setelah keunculan Ovid. Herda menuruti kata-kata Kyo dan berlari ke arah Ovid. "Eit, mau ngapain!?" Dengan gesit JaH menghentikan Herda dan menjatuhkannya dengan satu tangan. Fajar tercengan melihatnya. "Bagaimana mungkin kau bisa menjatuhkan Herda yang bagai raksasa itu dengan mudah!?" tanya Fajar. "Karena dia telah melukai Yudi!!!" jawab JaH. Mereka pun terdiam. "Kekuatan apa itu...?" ucap Fajar. "Kyo!" panggil Ovid. Kyo hanya terdiam. "Kenapa kau jadi seperti itu?" tanya Ovid. Kyo merasa pusing dan tak bisa mengendalikan kesabarannya. Camera Saber pun dikeluarkan, begitu juga dengan Ovid. Kedua orang fotografi itu beradu. "Sadarlah!!!" Kyo menyerang membabi-buta sementara Ovid hanya bisa bertahan karena tidak ingin melukai teman satu hobinya.

"Lenyaplah..." John dan Willy bersama beberapa temannya terus menyusuri Pinang Ranti Road melalui jalan-jalan kecil. Mereka terus berjalan tanpa hambatan hingga mereka sampai di tempat Khaled berada. "Muncul lagi!?" ucap Khaled. John melihat keadaan di sekitar. "Lenyaplah..." John mengeluarkan jurusnya kepada Teddy dan Ari, namun tidak terpengaruh. "Bagaimana mungkin!?" kata John panik. "Wajar saja, aku kan orang yang akan menjadi RAJA... Benar... RAJA yang baru!!!" Teddy dan Ari mengeluarkan aura hitam pekat yang menjadi ciri khas mereka. Aura hitam itu menyatu dan membentuk seekor tuyul raksasa. "Akhirnya saat ini tiba juga..." ucap Hendi. "Kebangkitan Teddy, sang RAJA yang baru!!!"

ZIZ, Andini, Ibnu, dan Dozo yang melewati jalan memutar juga telah sampai ke tempat Khaled berada. "Tak ada yang bisa kita lakukan sekarang..." kata Khaled yang sudah pasrah. "Tenang saja, yang menghadapimu hanya cukup satu orang!" kata ZIZ. "Benar!!!" dari belakang terlihat seseorang. Dia adalah Abi yang seharusnya ada bersama David dkk. "Kenapa kau bisa ada disini!?" tanya Khaled. "Sejak tadi orang-orang itu menikmati penyiksaan dan pertarungan sehingga aku dilupakan. Aku melihat adanya peluang untuk lari dan aku langsung menuju kesini!" kata Abi dengan mantap meskipun tidak keren. "Abi!!! Akan kuhabisi kau!!!" Khaled pun mengeluarkan serangannya. "TMS (Twin Money Source)!!!" Abi pun menghalau serangan tersebut. "FAS(Father Agreement Support)!!!" Kedua serangan itu beradu dan mengeluarkan percikan api. "Khaled, masih ingatkah kau kejadian saat itu?" tanya Abi. "Tentu saja aku ingat! Kau telah membawaku ke dalam bahaya karena kebodohanmu!!!" Khaled terpancing emosinya oleh Abi. Orang-orang yang menonton pertarungan tersebut saling menyoraki, bahkan sampai ada yang taruhan. "Abi menang!" "Khaled pasti menang!" Mereka bertaruh bak menonton acara sabung ayam. "Abiiii!!!!!" "Khaleeeeeeddd!!!" Abi mengeluarkan Ilmu Wangan yang cukup langka di 48 dan berhasil memukul Khaled. "Guagh!" Khaled yang marah pun membalas Abi dengan memberikan pukulan di wajah. "Agh!" Kedua orang itu bertarung dengan tangan kosong. Keadaan semakin memanas. Jumlah uang taruhan pun makin meningkat. "Khaled yang bakal menang!!!" "Abi, brengsek!!!" Kini yang berkelahi pun jadi banyak, kecuali Ari dan Teddy. Mereka berdua terseret ke dalam perkelahian dan menjadi bulan-bulanan. Mereka berdua sempat kabur dari keadaan itu, namun seseorang menarik mereka dan melemparnya ke tengah-tengah perkelahian itu. Menyedihkan sekali kedua orang itu. Hendi dkk yang merasa keadaan tidak beres setelah melihat aura hitam itu menghilang segera mendatangi tempat kejadian. Terkejut sekali mereka melihat orang yang menurut mereka akan menjadi RAJA kini sedang menjadi mainan dalam sebuah tawuran. "Teddy~!!!!!"

Zadoy Chronicle X - 11

Fraksi Tulloh telah memasuki arena pertempuran Pinang Ranti Road dengan meninggalkan Farid untuk menghadapi Bamby. Pihak SOLID pun tengah berangkat ke medan peperangan demi suatu tujuan. David dkk yang menghadapi Kyo dan Fajar kewalahan dan berada di ujung tanduk. Ibnu menghadapi Qbenk yang menantangnya untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat. ZIZ bersama Andini menghadapi Anita dan Fenny di sebuah dimensi Hasutan milik Anita. Dari balik gelapnya WC, tampak dua makhluk yang belum lama ini bersaing demi gelar terngepet, Ari dan Teddy. Mereka kini menuju area pertempuran sementara Khaled masih kabur dengan kecepatan cahaya, 5 km/jam.

"Aku mau tanya, kenapa kamu melawan pihak kami? Seharusnya kau berada di pihak yang sama dengan Ardhie dan Tulloh kan?" tanya Farid memelas. "Man, sejujurnya aku ingin bertarung di samping mereka. Tapi ada satu yang menggangguku," ujar Bamby. "Apa?" tanya Farid. "Kau!" Farid terdiam, hatinya tertohok. "Aku tidak butuh keberadaan bak tahi sepertimu, maka dari itu aku harus melenyapkanmu!" Ucapan Bamby benar-benar melukai hati Farid sehingga semangat bertarungnya hilang. Bamby mengeluarkan Veils dan menghabisi Farid dalam sekejap. "Sudah saatnya aku pergi," ucap Bamby lalu pergi meninggalkan Farid dalam keadaan yang sangat menyedihkan.

"Hei tukang hasut, sepertinya keadaan ini tidak imbang. Bagaimana kalau kau ganti temanmu?" ujar ZIZ. "Jangan remehkan aku!" kata Fenny. "Fen, kau mundurlah," ucap Anita memegang pundak Fenny yang terbawa emosi karena ucapan ZIZ. Fenny terdiam, lalu mundur dan pergi melalui lubang dimensi. Tidak lama kemudian seseorang muncul. "Huh, kukira siapa, rupanya... Fauzi!" Fauzi yang muncul memasang wajah meninggi. "Ayo kita habisi pengkhianat aliran Kranggan itu!" kata Anita. "Pengkhianat? Memang menurutmu arti pengkhianat itu apa?" sanggah ZIZ. Anita tak bisa menjawab. "Orang yang meninggalkan temannya," jawab Fauzi. ZIZ tersenyum. "Nah, apa selama ini kau menganggapku teman?" tanya ZIZ pada Anita. Anita tidak bisa menjawab. "Diam berarti tidak. Nah Fauzi, kau temanku kan?" tanya ZIZ. "Ehm, gimana ya...?" ZIZ melesat lalu memukuli Fauzi beberapa kali hingga tumbang. "Jawaban ragu kuanggap sebagai tidak," ucap ZIZ. Andini yang sejak tadi hanya diam mulai bicara. "Menyerah saja," ujarnya. Anita menolak untuk menyerah. "Asal tahu saja ya, kalau mengingat semua yang sudah kau lakukan padaku baik yang berefek ataupun tidak, aku tidak perlu segan untuk menghabisimu sekarang," ancam ZIZ yang sudah memegang 4 bilah mistar 30cm di tangan kiri dan sebilah mistar 60cm di tangan kanan. Anita mundur beberapa langkah karena takut. "Pengecut." Lalu tertunduk. "Aku mengalah kali ini..." ucapnya. "Mengalah ya... Habislah!" ZIZ yang ingin menyerang Anita ditarik oleh Andini. "Hah?" Andini menggelengkan kepalanya. ZIZ pun tenang. "Makhluk arogan," ucap ZIZ pada pihak kalah yang menangis lalu pergi dari sana berdua.

Qbenk dan Ibnu terus mengadu kesaktian ilmu Fisika, Kimia, dan Matematika. Serangan dari Ibnu sangat kuat, sementara Qbenk kuat di pertahanan. Pertarungan pun berlangsung seru hingga datang para member SOLID. "Qbenk, kau akan kubantu!" teriak Dicky. Ketika ingin berjalan ke samping Qbenk, Irfan sang Pangeran Arab menghentikannya. "Lihat dulu kalau mau bertindak! Itu Ibnu, SOLID juga dia!" kata Irfan. "Terus, kita harus bantu siapa?" tanya Deni. "Sudah pasti lah..." kata Gayuh yang ucapannya belum selesai. Qbenk tersenyum licik. "Ibnu! Dia kuat sekali!" Qbenk tercengang. Para member SOLID menyerang Qbenk, lalu diarak dengan konvoi di tengah lapangan 48. Ibnu yang merasa masalah sudah beres menghubungi Dozo dan mendapat jawaban memuaskan. Setelah bertemu ZIZ dan Andini, lalu didatangi Dozo, mereka berangkat untuk melanjutkan pengejaran.

"Uagh!" "Agh!" "Argh!" Berbagai macam bunyi keluar dari mulut Ardhie, David, dan Yudi yang sedari tadi disiksa Kyo. Belum selesai siksaan mereka, datanglah Herda yang juga ikut menyiksa mereka. Ajaib sekali kalau melihat Abi yang tidak diapa-apakan sementara ketiga temannya sedang menjalani siksaan seperti itu. Kali ini mereka tak berdaya. "Akan kubantu!" teriak Ovid yang mendadak muncul. Para kaki-tangan Khaled sedikit terkejut melihat kedatangannya dan berhenti menyiksa Yudi dkk untuk menghadapi Ovid. "Sial..."

Tidak terlalu jauh dari depan sana, Khaled yang dibonceng Dhidut ada di akhir Pinang Ranti Road. Khaled tertawa karena dia sudah hampir sampai di tujuan. "Berhenti disana!" Khaled terkejut melihat orang-orang berbaris menutupi jalan. Mereka adalah beberapa orang dari sektor A1 yang datang atas permintaan Dozo. Khaled pun berhenti. "Kalian itu ngapain!?" tanya Khaled. Tidak ada yang menjawab. Dari selokan di samping mereka, terdengar bunyi-bunyi aneh. Tak lama kemudian, muncul dua makhluk tak diundang. Mereka adalah Teddy dan Ari. "Teddy!" "Wah, ada Ari!" Mereka seakan pertunjukan hewan langka disana.

Tulloh, Anto, dan Chitoy bertemu Jodi di tengah perjalanan. Namun mereka harus menghadapi Awe dan Joce. "Sial..."

Zadoy Chronicle X - 10

Setelah berhasil menghadapi beberapa tangan Khaled, ZIZ beserta David, Ardhie, Yudi, dan Abi terus melanjutkan pengejaran. Tapi karena luka di perut ZIZ yang menganga, mereka tidak bisa melakukan pengejaran dengan kecepatan penuh. "Kalian pergilah duluan," ucap ZIZ berhenti melangkah. "Tapi bagaimana denganmu?" tanya Ardhie. "Tenang saja, aku sudah memanggil bantuan," ucap ZIZ. Mereka berpikir sebentar, kemudian pergi meninggalkan ZIZ. "Jaga dirimu," kata Yudi. ZIZ mengacungkan jempol sambil tersenyum.

"Andini, cepatlah datang," kata ZIZ yang duduk terdiam karena lukanya. Darah terus menetes melewati tangan kirinya yang menahan lukanya. "Apa aku berakhir disini?" ucap ZIZ pesimis sambil tertawa kecil. "Habislah..." ucap seseorang. Mendadak muncul bola-bola cahaya berwarna hijau dan meledak begitu saja. ZIZ terhempas dan terguling di tanah. "Aduh duh duh..." ZIZ mengerang kesakitan, sedikit tertawa juga. "Siapa sih yang bercandanya kelewatan ini?" ucap ZIZ. Dilihatnya siapa yang melakukannya. "Huh, kalian ya?" Anita dan Qbenk berdiri di hadapan ZIZ yang terkapar. "Yang kuminta siapa, yang datang siapa..." Mereka berdua mengeluarkan bola-bola itu sekali lagi. "Mati aku..."

"Qbenk!" panggil seseorang. Qbenk berhenti melakukan serangan dan melihat ke asal suara. "Ibnu!" Qbenk merasa senang melihat keberadaan Ibnu dan menantangnya untuk kesekian kalinya. "Ibnu, ayo kita lihat siapa yang lebih kuat!" ucapnya lantang. Ibnu menerima duel tersebut. "Kalau cuma orang tak berdaya, aku juga bisa mengalahkannya sendirian," ucap Anita. "Bodohnya..." Tanpa disadari, ZIZ sudah bangkit dengan persenjataan lengkap. "Kau terlalu arogan," ucapnya. Anita terdiam. "Kita selesaikan saja secara damai, hai tukang hasut," ucap ZIZ dengan tenang. "Siapa yang tukang hasut!?" "Kau tidak merasa ya? Wajar saja, kau kan memang begitu. Aku jadi tertawa kalau ingat bagaimana kau menceritakan semua kejadian itu dengan modifikasi secara subjektif sehingga kau selalu terlihat benar," ucap ZIZ. "Aku memang selalu benar!" bantah Anita. "Arogan..." Mental ZIZ meningkat.

Anita melepaskan dimensinya sendiri. Di dalam dimensinya, dia memanggil orang-orang yang telah berhasil dipengaruhinya. Terbuka beberapa lobang hitam disekitarnya. Dari sana keluar beberapa orang secara perlahan. "BMS..." Dengan cepat ZIZ menghancurkan gerbang tersebut. "Ayo kita selesaikan dengan dua lawan dua," ucap ZIZ dengan Andini di sampingnya. "Jangan pikir hanya kau yang bisa membuka gerbang," ucap ZIZ. Anita dengan Fenny yang berhasil dipanggilnya mempersiapkan serangan.

David dkk yang mengejar Khaled berhasil menyusul. Khaled yang merasa kesal menyuruh kaki-tangannya yang tersisa, Kyo dan Fajar, untuk menghadapi mereka lalu pergi setelah dijemput oleh Dhidut. "Lewati kami kalau ingin mengejar Khaled!" ucap Kyo. "Sepertinya ini akan sulit," ucap Ardhie. Kyo menyerang mereka ber-empat sementara Fajar membaca mantra untuk meningkatkan kemampuan Kyo. Ardhie dkk melakukan perlawanan, namun sia-sia karena Kyo yang diperkuat mantra memiliki kekuatan yang jauh di atas mereka. "Matilah kalian..." Kyo menarik Yudi, lalu melemparnya ke batang pohon hingga wajahnya hancur. Ardhie disiksa dengan dipecut di bagian perut. David dilempar kesana kemari hingga giginya rontok. Sementara Abi hanya dibuat diam. Entah karena mereka takut atau apa.

Jauh di belakang mereka, Chitoy, Tulloh, Anto, dan Farid sedang menyusul. Namun mereka dihentikan oleh Bamby. "Langkahi dulu mayatku kalau mau lewat!" tantang Bamby. "Biar kuurusi dia, kalian pergilah!" ucap Farid. Ketiga temannya meninggalkannya mengurusi Bamby. "Aku tahu kau tidak suka padaku, karena itu..." kata Farid dengan ragu. "Apa!? Ngomong yang bener, goblok!" kata Bamby dengan kasar. Farid terluka. Dia serasa ingin menangis karena ucapan Bamby. "Ada apa ini?" Terdengar suara yang familiar. Muncul Willy dan John bersama beberapa temannya dari sektor A2. Farid dan Bamby terdiam. "Sepertinya mereka masih jauh," kata Muhgi sambil melihat GPS. Samuel dan Ardhi melihat ke sekeliling. Mendadak terdengar suara teriakan orang. "Mata-mata sudah dilenyapkan," ucap mereka berdua. John dkk pun melanjutkan perjalanan.

Sang Pangeran Arab yang terbangun dari tidur panjangnya mengajak beberapa temannya di bawah lambang SOLID untuk membantu Qbenk. Mereka bergerak layaknya geng motor menuju tempat Qbenk sedang bertarung. "Ayo kita berangkat..."

Pertarungan terus berlanjut...

Zadoy Chronicle X - 9

Perang Ragnarok telah berakhir. Para SISWA berterima kasih atas jasa para GURU yang telah mendidik mereka sampai sejauh ini. Meskipun tidak semuanya. Di tengah keadaan yang mengharukan itu... "Apa yang kau rencanakan!?" tanya Ibnu pada Khaled yang muncul di hadapan mereka. "Aku hanya ingin berterima kasih pada kalian, makhluk-makhluk menyedihkan yang dengan bodohnya mau menghadapi BIGSOME sampai sejauh ini... Dengan ini, keinginanku untuk menjadi eksistensi yang melampaui kalian akan segera terwujud, bersama teman-temanku!!!" Khaled menatap Ibnu dengan tatapan merendahkan. "Menyedihkan..." Kemudian dia pergi bersama dua orang temannya. "Jangan pergi!" ZIZ melempar BMS (Bumerang Mikrometer Sekrup) untuk menghentikan mereka, namun tak berhasil. "Cih!" Beberapa orang datang menjemput Khaled dan dua orang temannya. "Kejarlah kami kalau bisa! Hahaha!!!"

Keadaan menjadi hening, namun ekspresi mereka macam-macam. Ada yang tenang, ada yang bingung, ada yang sedikit tersinggung, dan ada yang tertawa senang sekaligus kesal. "Khekhekhe... Mereka pikir mereka siapa? Seenaknya datang menjelek-jeleki kita lalu pergi begitu saja... Hih! Don't shit with me!!!" ZIZ kehilangan kendali emosinya dan tanpa sudar sudah memecahkan satu pot dengan kakinya. "Ayo kita kejar," ajak Ardhie tenang. Mereka pun pergi untuk mengejar orang-orang itu sementara Ibnu, Ovid, John, dan Willy pergi ke tempat lain untuk mengurus sesuatu. "Let's finish our nemesis!!!"

Khaled bersama para kaki-tangannya melesat dengan kendaraannya masing-masing. Ekspresi penuh kemenangan tampak pada wajah mereka, seakan mereka sudah 100% menang tanpa halangan. "Hahaha! Dengan ini kemenangan ada di tangan kami..." ucap Khaled dengan mantap. "BMS..." Tiba-tiba sesuatu melesat, merusak formasi Khaled dkk. "Apa!?" Mereka berhenti dan melihat ke belakang. "Kau! Berani-beraninya!" teriak Qbenk. "Heh... Apa kalian pikir kalian raja?" tanya ZIZ dengan nada orang yang benar-benar kesal, bagaikan kesetanan. "Bahkan dengan adanya tukang hasut itu membuat kalian makin tak layak untuk menjadi raja..." tambahnya sambil melirik seseorang yang sedikit mengumpat di barisan Khaled dkk. "Majulah kalau berani," tantang ZIZ.

"Kau mau mati ya? Akak kubuat kau merasakan mati!" ucap Khaled. "Mati? Asal kau tahu ya, aku sudah pernah mati dan bangkit dari dasar neraka," ujar ZIZ dengan tatapan bagaikan setan. Di belakangnya hanya ada Ardhie, David, Yudi, dan Abi. Tidak sebanding dengan Khaled yang berada di belakang Qbenk, Anita, Kyo, Fenny, Gayuh, Fajar, Dita, Novi, dan Gallant. "Sepertinya tidak harus semuanya turun tangan sekarang... Dita, Novi, Fenny, Gallant, Gayuh, habisi mereka!" perintah Khaled dan pergi bersama kaki-tangannya yang tersisa. "Aku bahkan tidak kenal beberapa..." ucap ZIZ.

ZIZ menghadapi Gayuh, David melawan Gallant, sementara Ardhie, Yudi, dan Abi melawan sisanya. "Gayuh... Jadi kau mau melawan orang yang satu tempat denganmu dulu ya?" tanya ZIZ. "Ini perintah Khaled, aku tidak mau menolak," jawab Gayuh. "Aku bisa sedikit mengerti alasan itu. Tapi asal kau tahu saja, di pihak kami pun ada orang yang lebih kuat dari dia," ucap ZIZ sambil melirik salah satu kawannya. Gayuh sedikit terkejut begitu dia ingat orang itu. Gayuh pun mengurungkan niatnya untuk bertarung. "Apa maumu?" tanya Gayuh. "Jangan halangi kami, itu saja," jawab ZIZ. Sementara itu, David sedikit kewalahan menghadapi Gallant. "JSH (Jangka Sorong Hammer)!" ZIZ memukul Gallant dari belakang dengan Jangka Sorong di tangan kanannya lalu menendangnya. "Tak ada waktu lagi..." ucap ZIZ lalu melanjutkan pengejaran dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya. David terkejut melihat ada darah yang menetes dari perut ZIZ. "Sial... Di saat seperti ini..." Luka di perutnya menganga.

***

Beberapa hari sebelum Ragnarok, ZIZ menghadapi Sensei bersama beberapa SISWA dari S3 dalam rangka menguji Japon Bomb. Ketika itu ZIZ menggunakan bahan metalium alloy sebagai pembungkusnya. Saat melempar Japon Bomb, Sensei menyerangnya sehingga bom itu terlempar ke atas dan meledak sehingga pecahan-pecahan bom tersebut memberi luka yang parah pada ZIZ dan Meyda serta beberapa orang temannya. Luka yang cukup parah sehingga belum pulih sampai sekarang. Dan kini luka itu terbuka.

ZIZ dan David sudah melanjutkan pengejaran sementara Yudi, Ardhie, dan Abi berhasil menaklukkan para wanita yang bertarung dengan mereka dengan memanfaatkan ketampanan Yudi sehingga mereka terhanyut dan mau membuka jalan untuk mereka. Mereka pun ikut mengejar. Di saat yang sama di suatu tempat, beberapa orang bangkit dari latihan neraka. Mereka sudah dipesankan oleh Ovid untuk membantunya bila saatnya tiba. Kini mereka berangkat menuju tempat pertarungan yang ditetapkan. "Akan kita balas kekalahan waktu itu..." Ibnu yang telah menyelesaikan tugasnya memberi pesan kepada Dozo, dan ditanggapi dengan baik olehnya. "Pesan dari mas Ibnu..." Dozo pun pergi ke suatu tempat di sektor A1. Tanpa disadari, dunia yang sempat damai itu sekali lagi dipenuhi pertempuran.