Belum menghadapi perang UAS, beberapa SISWA sudah dikejutkan dengan adanya remed Praktek Fisika yang menyebalkan. Matilah!!!
Kurang dari 1 mil sebelum finish, ZIZ bersama John dan Willy masih ada di depan KP dan KR. Merasa sudah dekat, KP dan KR menyalakan reaktor nuklir di mobilnya sehingga keduanya melaju dengan cepat. "Terlalu cepat..." ucap mereka berdua. John dan Willy mengatakan hal yang sama, "masih bodoh seperti dulu..." Ketika mobil KP dan KR ada di samping mereka berdua, mereka berdua menabrak bagian lampu belakang sehingga mobil KP dan KR kehilangan keseimbangan dan terpelanting. Hepi dan Nanda yang melihat kejadian itu menutup mata dengan kedua tangan karena tak tega melihatnya sementara Hendi menganga melihatnya. Setelah mobilnya selesai berguling-guling, KP dan KR keluar dari mobilnya. John dan Willy pun keluar dari mobil mereka. "Kalau kau tak bermain curang, aku bisa menang kan?" tanya KP yang bersimbah darah dengan terbata-bata karena kesakitan menahan luka. John dan Willy tersenyum dan menjawab, "kepalamu terbentur ya?" Dengan ini pihak Teddy pun mengalami ancaman. Pihak Ari sudah maju selangkah dalam usahanya melengserkan Teddy.
Mendengar kekacauan itu, Sugiyanta turun tangan untuk mendisiplinkan para SISWA yang melakukan drug race itu. "Ngapain kalian buang-buang tenaga dan waktu buat ngelakuin yang kayak ginian?" tanya Sugi dengan nada khasnya. Beberapa SISWA di sekitar sana yang menjadi korban remed praktek dengan tersembunyi sudah mengelilinginya. "Makan nih!!!" "Mampus!!!" "Sialan!!!" Sugiyanta pun dikeroyok dari segala arah. Dia dilempari bermacam-macam benda, bahkan dendeng Tulloh pun ada. ZIZ dengan empat bilah mistar 30cm di tangan kirinya menghunuskannya di depan leher Sugi yang masih dilempari. "Imbisil!" Sugiyanta pun kabur karena tidak tahan. Ketika John, Willy, dan Simon ingin melenyapkannya, Ibnu, David, dan John menghentikan mereka. Sebelum sempat naik motornya, Hang dan Noven sempat memukul kepala Sugi. Alasan mereka pun sederhana, "biar rame aja." Sugiyanta pun pergi dengan motornya. Hendi, Hepi, dan Nanda yang merasa keadaan tak menguntungkan pergi dari sana. "Maafkan kami, boss Teddy..."
Kurang dari 1 mil sebelum finish, ZIZ bersama John dan Willy masih ada di depan KP dan KR. Merasa sudah dekat, KP dan KR menyalakan reaktor nuklir di mobilnya sehingga keduanya melaju dengan cepat. "Terlalu cepat..." ucap mereka berdua. John dan Willy mengatakan hal yang sama, "masih bodoh seperti dulu..." Ketika mobil KP dan KR ada di samping mereka berdua, mereka berdua menabrak bagian lampu belakang sehingga mobil KP dan KR kehilangan keseimbangan dan terpelanting. Hepi dan Nanda yang melihat kejadian itu menutup mata dengan kedua tangan karena tak tega melihatnya sementara Hendi menganga melihatnya. Setelah mobilnya selesai berguling-guling, KP dan KR keluar dari mobilnya. John dan Willy pun keluar dari mobil mereka. "Kalau kau tak bermain curang, aku bisa menang kan?" tanya KP yang bersimbah darah dengan terbata-bata karena kesakitan menahan luka. John dan Willy tersenyum dan menjawab, "kepalamu terbentur ya?" Dengan ini pihak Teddy pun mengalami ancaman. Pihak Ari sudah maju selangkah dalam usahanya melengserkan Teddy.
Mendengar kekacauan itu, Sugiyanta turun tangan untuk mendisiplinkan para SISWA yang melakukan drug race itu. "Ngapain kalian buang-buang tenaga dan waktu buat ngelakuin yang kayak ginian?" tanya Sugi dengan nada khasnya. Beberapa SISWA di sekitar sana yang menjadi korban remed praktek dengan tersembunyi sudah mengelilinginya. "Makan nih!!!" "Mampus!!!" "Sialan!!!" Sugiyanta pun dikeroyok dari segala arah. Dia dilempari bermacam-macam benda, bahkan dendeng Tulloh pun ada. ZIZ dengan empat bilah mistar 30cm di tangan kirinya menghunuskannya di depan leher Sugi yang masih dilempari. "Imbisil!" Sugiyanta pun kabur karena tidak tahan. Ketika John, Willy, dan Simon ingin melenyapkannya, Ibnu, David, dan John menghentikan mereka. Sebelum sempat naik motornya, Hang dan Noven sempat memukul kepala Sugi. Alasan mereka pun sederhana, "biar rame aja." Sugiyanta pun pergi dengan motornya. Hendi, Hepi, dan Nanda yang merasa keadaan tak menguntungkan pergi dari sana. "Maafkan kami, boss Teddy..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar