Pertarungan Khaled dan Abi berlangsung seru. Keduanya mengeluarkan serangan pamungkasnya masing-masing. Keadaan pun dibuat lebih ramai oleh massa di sekitar yang saling beradu jotos, mempertaruhkan keberuntungan dan uang masing-masing untuk Abi maupun Khaled. Di tengah-tengah tawuran itu, Teddy dan Ari menjadi bulan-bulanan massal. Membuat pendukung mereka sedikit sedih, tidak, benar-benar sedih. "Teddy~!!!" teriak Nanda dan Hepi yang berlinang air mata. Teddy yang tersiksa tak bisa mendengar suara mereka. Yang dia rasakan hanya sebuah rasa hangat, atau lebih tepatnya panas karena diserang dari berbagai arah.
"Khaled!!!!" "Abi!!!!!" Mereka berdua menyerang satu sama lain dengan kekuatan penuh. Pertarungan mereka benar-benar dahsyat. Orang-orang di sekitar mereka merasakan adanya angin di tiap serangan mereka. Angin semangat. "Abi berhasil memukul dada Khaled. Khaled pun berhasil menendang perut Abi kemudian melemparnya. Abi yang jatuh ke tanah menahan tubuhnya dengan tangan kanannya dan berlari ke arah Khaled. Saking semangatnya, Abi mengeluarkan aura berwarna hijau. Khaled pun demikian. Dia mengeluarkan aura berwarna merah. Mereka pun bertabrakan hingga terjadi tekanan yang sangat kuat sehingga orang-orang di sekitar mereka sampai terdorong cukup jauh. "Hebat sekali..." ZIZ tercengang. "Inikah orang yang selama ini tidak kita perhatikan?" tanya Ibnu. "Sepertinya kita terlalu meremehkan mereka..." ujar ZIZ.
Terhempas akibat beradunya Khaled dan Abi, Teddy dan Ari tenggelam di selokan. Mereka meronta-ronta untuk naik ke atas. Setelah berusaha mati-matian untuk naik selama lima menit, akhirnya mereka bisa menghirup udara segar lagi. Hendi membantunya untuk naik. "Kau tidak apa-apa, paduka Teddy?" tanya Hendi. "Aku sedikit tersinggung..." ucap Teddy yang sedikit marah. Hendi pun berbalik badan dan bermaksud untuk menghentikan pertarungan Khaled dan Abi. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya ZIZ yang berdiri di depannya. Hendi sang Pembalas Dendam berhenti melangkah. "Tidak bisakah kau melihat orang-orang ini senang sebentar?" ucap ZIZ sambil melihat orang-orang yang masih menyoraki Abi dan Khaled. "Kau!!!" Hendi mulai melangkah. Tiba-tiba ada tembakan dari atas, menghentikan langkah Hendi. Orang itu pun mendarat. "Takkan kubiarkan kau menyentuh Khaled sedikitpun," ucap orang itu. "Robi!?"
Herda berkali-kali mencoba menyerang JaH, namun sia-sia karena selain tubuhnya yang besar namun lambat, tekniknya tidak sehebat lawannya. JaH yang merasa bosan berlari berputar-putar, Herda pun mengikutinya. "Aku bertaruh kau takkan bisa mengikutiku!!!" teriak JaH dengan mantap. Belum lama berlari, Herda sudah sulit bernapas dan berhenti berlari. "Hosh hosh... Sialan..." katanya dengan nafas tersengal. "Mampus!!!" Ardhie yang sudah bangkit memukul Herda. "Pertarungan dua gumpalan daging..." komentar David yang juga sudah sadar. "Haruskan kita bantu Ovid?" tanya Yudi. "Tidak perlu, karena ini adalah pertarungan yang harus dia selesaikan sendiri..." ucap David melirik ke arah Ovid yang beradu dengan Kyo. "Camera Buster kita sama kuat ya..." ucap Kyo. "Hentikanlah!" teriak Ovid. Kyo terus menyerang Ovid, hingga akhirnya senjata mereka berdua menjepret satu sama lain. Kyo mendadak menjadi lemas. Ovid menahan tubuhnya. "Syukurlah kau sudah sadar..." ucap Ovid. "Ovid... Maaf..." ucap Kyo. Fajar tak berdaya ketika harus menghadapi David dan Yudi dan memilih untuk menyerah. Herda pun sudah kalah di tangan Ardhie. Tubuhnya ditenggelamkan selokan Pinang Ranti Road agar jiwanya tenang. "Aku belum mati sial!" kata Herda.
"Ilmu aliran Hukum! Pasal-pasal!!!" Tulloh menyerang Joce dengan serangan andalannya. Joce berhasil menghindari serangan itu dan memberikan serangan balasan. "Integral!!!" Tulloh terdorong sedikit namun berhasil mematahkan serangan itu dan berlari menyerang Joce. Joce menahan pukulan Tulloh dan memberikan serangan balasan yang berhasil ditangkis oleh Tulloh. Petir bagai menyambar mereka tiap serangan mereka beradu. Awe melawan Chitoy dengan ilmu yang dia miliki. Chitoy yang lincah dengan mudahnya dapat menghindari serangan Awe dan berhasil memukul wajahnya. "Tidak mempan!?" Chitoy pun menunduk dan menendang sebelah kiri perutnya. "Keras sekali!!!" Chitoy pun mundur beberapa langkah. "Kau memang cepat, tapi kau kurang mengetahui luasnya dunia..." Awe pun melepas jaketnya. Terlihat kalau beberapa bagian tubuhnya terbuat dari baja. "Kau... Sialan..."
"Khaled!!!!" "Abi!!!!!" Mereka berdua menyerang satu sama lain dengan kekuatan penuh. Pertarungan mereka benar-benar dahsyat. Orang-orang di sekitar mereka merasakan adanya angin di tiap serangan mereka. Angin semangat. "Abi berhasil memukul dada Khaled. Khaled pun berhasil menendang perut Abi kemudian melemparnya. Abi yang jatuh ke tanah menahan tubuhnya dengan tangan kanannya dan berlari ke arah Khaled. Saking semangatnya, Abi mengeluarkan aura berwarna hijau. Khaled pun demikian. Dia mengeluarkan aura berwarna merah. Mereka pun bertabrakan hingga terjadi tekanan yang sangat kuat sehingga orang-orang di sekitar mereka sampai terdorong cukup jauh. "Hebat sekali..." ZIZ tercengang. "Inikah orang yang selama ini tidak kita perhatikan?" tanya Ibnu. "Sepertinya kita terlalu meremehkan mereka..." ujar ZIZ.
Terhempas akibat beradunya Khaled dan Abi, Teddy dan Ari tenggelam di selokan. Mereka meronta-ronta untuk naik ke atas. Setelah berusaha mati-matian untuk naik selama lima menit, akhirnya mereka bisa menghirup udara segar lagi. Hendi membantunya untuk naik. "Kau tidak apa-apa, paduka Teddy?" tanya Hendi. "Aku sedikit tersinggung..." ucap Teddy yang sedikit marah. Hendi pun berbalik badan dan bermaksud untuk menghentikan pertarungan Khaled dan Abi. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya ZIZ yang berdiri di depannya. Hendi sang Pembalas Dendam berhenti melangkah. "Tidak bisakah kau melihat orang-orang ini senang sebentar?" ucap ZIZ sambil melihat orang-orang yang masih menyoraki Abi dan Khaled. "Kau!!!" Hendi mulai melangkah. Tiba-tiba ada tembakan dari atas, menghentikan langkah Hendi. Orang itu pun mendarat. "Takkan kubiarkan kau menyentuh Khaled sedikitpun," ucap orang itu. "Robi!?"
Herda berkali-kali mencoba menyerang JaH, namun sia-sia karena selain tubuhnya yang besar namun lambat, tekniknya tidak sehebat lawannya. JaH yang merasa bosan berlari berputar-putar, Herda pun mengikutinya. "Aku bertaruh kau takkan bisa mengikutiku!!!" teriak JaH dengan mantap. Belum lama berlari, Herda sudah sulit bernapas dan berhenti berlari. "Hosh hosh... Sialan..." katanya dengan nafas tersengal. "Mampus!!!" Ardhie yang sudah bangkit memukul Herda. "Pertarungan dua gumpalan daging..." komentar David yang juga sudah sadar. "Haruskan kita bantu Ovid?" tanya Yudi. "Tidak perlu, karena ini adalah pertarungan yang harus dia selesaikan sendiri..." ucap David melirik ke arah Ovid yang beradu dengan Kyo. "Camera Buster kita sama kuat ya..." ucap Kyo. "Hentikanlah!" teriak Ovid. Kyo terus menyerang Ovid, hingga akhirnya senjata mereka berdua menjepret satu sama lain. Kyo mendadak menjadi lemas. Ovid menahan tubuhnya. "Syukurlah kau sudah sadar..." ucap Ovid. "Ovid... Maaf..." ucap Kyo. Fajar tak berdaya ketika harus menghadapi David dan Yudi dan memilih untuk menyerah. Herda pun sudah kalah di tangan Ardhie. Tubuhnya ditenggelamkan selokan Pinang Ranti Road agar jiwanya tenang. "Aku belum mati sial!" kata Herda.
"Ilmu aliran Hukum! Pasal-pasal!!!" Tulloh menyerang Joce dengan serangan andalannya. Joce berhasil menghindari serangan itu dan memberikan serangan balasan. "Integral!!!" Tulloh terdorong sedikit namun berhasil mematahkan serangan itu dan berlari menyerang Joce. Joce menahan pukulan Tulloh dan memberikan serangan balasan yang berhasil ditangkis oleh Tulloh. Petir bagai menyambar mereka tiap serangan mereka beradu. Awe melawan Chitoy dengan ilmu yang dia miliki. Chitoy yang lincah dengan mudahnya dapat menghindari serangan Awe dan berhasil memukul wajahnya. "Tidak mempan!?" Chitoy pun menunduk dan menendang sebelah kiri perutnya. "Keras sekali!!!" Chitoy pun mundur beberapa langkah. "Kau memang cepat, tapi kau kurang mengetahui luasnya dunia..." Awe pun melepas jaketnya. Terlihat kalau beberapa bagian tubuhnya terbuat dari baja. "Kau... Sialan..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar