Minggu, 21 September 2014

Zadoy Chronicle X - 14

Chitoy terkejut melihat tubuh Awe yang setengahnya adalah baja. Itu menjawab pertanyaan mengapa sejak tadi Awe tidak terluka karena serangannya. "Sama seperti Yudi!?" kata Tulloh. "Lihat kemana kau!?" Joce berhasil memberikan pukulan telak kepada Tulloh yang meleng sebentar. "Lawanmu adalah aku, tak perlu kau urusi yang disana," kata Joce mantap. Tulloh yang terjerembab berdiri dengan perlahan. "Sialan..." Belum sempat Tulloh berdiri, Joce sudah menendang wajahnya. Sekali lagi Tulloh terjerembab. "Bajingan!!!" Chitoy yang emosi melihat temannya diperlakukan seperti itu berlari ke arah Joce dengan tangan yang membara. "Mau apa kau?" Dari belakang Awe menusuk Chitoy. "Lawanmu itu aku, kenapa malah menyerang Joce?" tanya Awe di hadapan Chitoy yang bersimbah darah. "Gawat..." Anto tinggal sendiri. Bergetar melihat kedua temannya dikalahkan begitu mudah. "Mampus kau..."

Ovid bersama JaH, Ardhie, David, dan Yudi yang sudah menyelesaikan tugas mereka kini berjalan tak tentu arah. "Kemana kita pergi?" tanya Ovid. "Ke arah angin berhembus..." jawab JaH. Mereka berjalan melalui jalan kecil di dekat sebuah warung. Setelah berjalan beberapa meter, tiba-tiba ada orang terpental di depan mereka. "Huwaaa!!!!" Mereka melihat siapakah orang itu, rupanya Anto. Dari arah yang berlawanan mereka melihat ada Joce dan Awe yang sedikit kelelahan. "Tidak kusangka mereka bisa membuat kita kesulitan..." ucap Awe. Joce mengangguk tanda setuju. Ovid dkk terdiam.

"WOW!!!" Dari atas tembok datang seseorang. "Siapa yang mengacau disini!?" tanya orang itu. "Kau... Dhoni!" kata Joce. "Kalian semua... mengganggu tidurku saja..." kata Dhoni menghadap ke arah Ovid dkk. Joce dan Awe tersenyum sementara Ovid dkk panik. Di tengah kepanikan itu, David menyodorkan sesuatu pada Dhoni. "Komik, Dhon," kata David. Dhoni mengambil komik itu, lalu tersenyum. "Kalian yang berulah," kata Dhoni menghadap ke arah Joce dan Awe. Senyum di muka mereka berdua hilang. Dhoni pun melesat ke arah Joce dan melumpuhkannya sekali serang. Awe yang merasa tak mungkin mengalahkan Dhoni membopong Joce dan pergi. "Mengganggu saja..."

Robi dan Hendi bertemu di medan perang sebagai lawan. "Menyingkir kau! Aku akan membantu RAJA yang baru!!!" kata Hendi yang terus menghantam tubuh Robi dengan kedua tangannya yang kuat. Meskipun begitu, Robi yang lebih kuat bisa menahannya dengan mudah. Kekuatan mereka nyaris seimbang. "RAJA yang baru? Teddy? Tidak mungkin! RAJA yang baru pastilah Ari!" bentak Robi. Hendi merasa tersinggung dengan ucapan Robi dan menyerang dengan membabi-buta. Pukulan mereka pun beradu. "Mereka keasikan sendiri... Yah, untuk sementara aku aman deh..." ucap ZIZ yang perlahan menyingkir dari sana. "Hah?" Tiba-tiba ZIZ merasa ada yang menariknya ke dalam dimensi lain. "Perasaan ini... mungkinkah..." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, ZIZ sudah terhisap ke dalam lubang dimensi.

"Barrier Area..." ZIZ mengeluarkan pembatas di sekitarnya. "Apa lagi sih?" gumamnya. Tanpa disadari, ada dua makhluk yang sudah melewati pembatas itu. "Siapa kau?" tanya ZIZ. "Kau yang siapa!?" jawab orang itu. "Seenaknya saja masuk!" kata ZIZ. "Keluar kalau kau berani!" tantang orang itu. ZIZ yang terbawa emosi pun keluar dari pembatas tingkat dua. ZIZ merasa malas melihat kedua makhluk itu. Mereka adalah Anita dan seorang temannya yang tidak jelas apa. Anita membentak-bentak ZIZ yang sesekali disanggah oleh ZIZ. Setelah beberapa kali disanggah, Anita bertambah kesal sehingga menampar ZIZ namun setelah tangan itu mengenai ZIZ sedikit, tangan kiri ZIZ menahannya sehingga tamparan itu hanya terasa seperti disentuh, sama sekali tidak sakit. Anita menarik tangannya dan menendang ZIZ tapi dapat ditangkis dengan tangan kiri lagi. Adu mulut pun terjadi di antara mereka. Teman Anita itu mengaku dia hanya penengah. "Apanya yang penengah? Makhluk yang pernah terang-terangan cari perkara denganku ini pasti bala bantuan," pikir ZIZ. "Kalau dia tidak ada, kau sudah kuhabisi!" kata Anita dengan kasar. "Buktikan!" kata ZIZ. "Beraninya hanya dengan wanita! Banci!" ejek Anita. "Siapa yang nantang?" tanya ZIZ yang sedikit menahan tawa mendengar ucapan Anita yang tidak rasional. "Aku yang nantang!" bentak Anita. "Maju sini!" tantang ZIZ. Anita sekali lagi mengayunkan tangannya untuk menyerang ZIZ namun dapat terlanjur ditahan lebih dahulu. Tangan Anita meronta agar dilepaskan dari cengkeraman ZIZ. Teman Anita itu menyuruh ZIZ untuk melepaskannya. "Salah apa aku sampai mengalami ini?" tanya Anita. "Pikir saja sendiri!" kata ZIZ. "Kau sendiri yang mengundang masalah ini," batin ZIZ. "Asal kau tahu saja ya, aku sudah tak menganggapmua pacar sahabatku!" ancam Anita. "Sejak awal juga sudah dianggap bukan apa-apa," kata ZIZ. Anita pun terdiam. "Terima kasih buat waktunya, terima kasih juga sudah menangkal tamparanku. Ingat, masalah ini belum selesai!" kata Anita dan pergi dengan temannya. "Yaya, apapun katamu, tidak usah kembali saja, mati saja sekalian," ucap ZIZ. ZIZ pun kembali ke tempat semula.

Khaled dan Abi masih asik bertarung. Keduanya walaupun bersimbah darah tetap melanjutkan pertarungan. Khaled berhasil membuat Abi terluka parah meskipun sudah banyak darah yang keluar dari kepalanya. Abi terus bertarung meskipun sudah lemas. "Mampus kau!" teriak Abi an mengayunkan tangannya ke arah perut Khaled. Khaled berhasil menghindarinya dan sukses memukul wajah Abi. Abi pun terpental. Berdiri saja sulit untuk Abi. Dia berjalan terseok-seok. "Abi! Jangan kalah!" "Khaled! Habisi dia!" Teriakan para supporter pun semakin kencang. Suara mereka memberikan semangat pada mereka berdua. Khaled mengepalkan tangannya dan memberikan serangan terakhirnya. Belum sempat menyelesaikan pertarungan, mereka sudah habis oleh sebuah serangan yang berasal dari tempat Ari dan Teddy berdiri. Para penonton pun terdiam. "Teddy Ari! Teddy Ari!" Kini mereka menyoraki Teddy dan Ari, dua orang yang mengaku akan menjadi RAJA yang baru. "Aku adalah RAJA kalian yang baru, Generasi Hitam!"

Tidak ada komentar: