Setelah melewati pertarungan liar tersebut, para pejuang memulihkan tenaga di DP yang mereka rampas dan mereka modifikasi menjadi Pulang Cepat. ZIZ dan David mencari udara segar dengan berjalan-jalan di luar. Di tanah yang sepi ini, mereka tidak mengharapkan sesuatu yang unik akan terjadi. Namun, mereka telah menemukannya. Mereka telah menemukan sesosok makhluk bertubuh kecil berkepala botak. ZIZ dan David menangkapnya dan mereka bawa ke PC. Disana, dia ditanyai banyak hal, namun tidak mau menjawab. ”Laksanakan...” Setelah dirajam habis-habisan, makhluk itu baru mau buka mulut. Dari info yang didapatkan darinya, diketahui bahwa dia adalah Big Boss yang memegang 48 pas Ba’da Maghrib, ”Tuyul Penghancur” TEDDY SETYO AKBAR.
Diceritakan olehnya tentang kehidupan malam 48 yang mampu membuat air mata mengalir. Konon katanya, dia sering mencari mangsa di TK di dekat 48. ”Bagaimana? Apa kita ajak saja dia untuk bergabung dengan kita?” tanya Abi. ”Terserahlah...” jawab yang lain. ”Dia adalah orang yang kita perlukan untuk masa yang akan datang. Kita ajak saja dia....” ucap ZIZ. Setelah itu terjadilah kejadian yang terlihat di mata orang-orang. Teddy berubah menjadi TUYUL dan memohon izin untuk pamit. ”Bye~!” katanya sambil melambaikan tangan dan menghilang.
”H~m... jadi disini kalian berkumpul dan merencanakan pemberontakan terhadap kami?” ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di atas CP. ”Siapa kau?” tanya Willy dengan wajah yang menakutkan. ”Dia... dia yang selama ini menghantuiku... Aktivis HAM yang seharusnya sudah mati diracun... MUNIR!!!” jelas David histeris. Jelas saja semuanya tertawa.
”Dan yang dibelakangmu itu... Tatik kan?” tebak Ibnu. ”Benar sekali! Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Tatik. ”Kalau melihat GURU bertubuh pendek, siapa lagi yang bisa terpikirkan selain Tatik?” ledek ZIZ sambil memalingkan muka. ”Sial, kau menghinaku!!!! Rasakan ini!!!!” teriak Tatik sembari menembakkan laser dari mata kirinya. Dalam sekejap ZIZ mampu memantulkan laser itu dengan menggunakan kepala Abi. ”Jangan coba-coba menyerangku kalau kau masih membutuhkan nyawamu...” ucapnya.
”Langsung ke pokok permasalahan.... Apa kalian tahu siapa orang ini?” tanya Munir sambil menunukkan foto seseorang yang sangat familiar. ”Itu kan tuyul yang barusan...” ucap Willy. ”Jadi kalian tahu? Dimana dia sekarang?” tanya Munir. Mereka hanya tersenyum dan melirik satu sama lain. ”Akan kuberitahu... Tapi, kau jangan terkejut yah!” ucap David. ”Oke, dimana dia?” tanya Tatik. ”Dia.... ada di belakangmu,” jawab ZIZ. Tiba-tiba Munir dan Tatik dipukul dari belakang oleh sesosok tuyul kecil. Dialah Teddy, sang ”Tuyul Penghancur” yang tadi sempat muncul. ”Ada sesuatu yang lupa kusampaikan...”
Setelah mengurusi jasad Tatik dan Munir yang terkapar, Teddy mulai menceritakan suatu hal yang penting. ”Selama perang terhenti, banyak yang telah mereka persiapkan, salah satunya adalah proyek LSS yang terlalu digembar-gemborkan. Karena hal tersebut, SISWA kelas 3 yang IPS, terbengkalai dan tidak belajar, padahal UAN sudah dekat...” jelasnya. ”Justru karena itulah kita bertindak...” ucap David. ”Untuk memperbaiki pemikiran mereka yang kacau itu...” saut Ibnu. ”Kami akan mengubahnya!” tutup ZIZ. Segera setelah itu, Teddy menghilang.
Setelah itu, para pejuang pun kembali ke posnya masing-masing, kecuali Ibnu yang pergi ke suatu tempat untuk menghilangkan penat. ”Huh, IPA 3 memang menyenangkan ya~” kata ZIZ saat memasuki IPA 3. Dilihatnya, para pejuang IPA 3 yang lain telah memakai pakaian olahraga dan siap menghadapi teriknya matahari di lapangan. ZIZ pun segera mengganti pakaiannya dan pergi ke lapangan bersama yang lain. Mereka semua ingin bermain bola. Namun, lapangan telah dikuasai oleh kaum hawa sehingga mereka tidak bisa bermain.
Muncul inisiatif dari seseorang untuk memindahkan gawang ke lapangan basket. Mereka semua langsung setuju. Dengan semangat juang yang tinggi, keringat dan air mata yang menetes, dan rasa kebersamaan yang tinggi, semua gawang telah berhasil dipindahkan ke lapangan basket. Saat mereka baru mau memulai permainan, datang seorang yang tak diundang merusuh dan mengusir para SISWA dari lapangan. Dalam mengantisipasi hal itu, mereka mengungsi ke kantin untuk mencari jalan keluarnya. Dan di saat pembicaraan sedang seru serunya....
”HOI HOI!!!!!! NGAPAIN KALIAN DISINI!!!!!! NGGAK NGEHARGAIN GURU APA KALIAN!!!!!?” Dari kejauhan, datanglah Desman sambil berlari dengan kecepatan bagaikan setan. Semua SISWA yang sedang nongkrong di kantin ketakutan dan lari menghindarinya. Namun, banyak juga yang menjadi keganasan tangannya yang kegatelan, baik dari pihak adam maupun hawa. Menyedihkan sekali keadaan itu. Mereka pun kembali ke IPA 3 dengan membawa luka yang tak akan hilang bekasnya. ”Sial, apa itu perlakuan seorang guru!?” keluh seorang SISWA. ”Guru nggak bermoral dia!” saut SISWA yang lain. ”Orang seperti dia harusnya mati saja!!!!” teriak yang lainnya lagi. Desman pun menjadi buah bibir.