Minggu, 21 September 2014

Zadoy Chronicle X - 11

Fraksi Tulloh telah memasuki arena pertempuran Pinang Ranti Road dengan meninggalkan Farid untuk menghadapi Bamby. Pihak SOLID pun tengah berangkat ke medan peperangan demi suatu tujuan. David dkk yang menghadapi Kyo dan Fajar kewalahan dan berada di ujung tanduk. Ibnu menghadapi Qbenk yang menantangnya untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat. ZIZ bersama Andini menghadapi Anita dan Fenny di sebuah dimensi Hasutan milik Anita. Dari balik gelapnya WC, tampak dua makhluk yang belum lama ini bersaing demi gelar terngepet, Ari dan Teddy. Mereka kini menuju area pertempuran sementara Khaled masih kabur dengan kecepatan cahaya, 5 km/jam.

"Aku mau tanya, kenapa kamu melawan pihak kami? Seharusnya kau berada di pihak yang sama dengan Ardhie dan Tulloh kan?" tanya Farid memelas. "Man, sejujurnya aku ingin bertarung di samping mereka. Tapi ada satu yang menggangguku," ujar Bamby. "Apa?" tanya Farid. "Kau!" Farid terdiam, hatinya tertohok. "Aku tidak butuh keberadaan bak tahi sepertimu, maka dari itu aku harus melenyapkanmu!" Ucapan Bamby benar-benar melukai hati Farid sehingga semangat bertarungnya hilang. Bamby mengeluarkan Veils dan menghabisi Farid dalam sekejap. "Sudah saatnya aku pergi," ucap Bamby lalu pergi meninggalkan Farid dalam keadaan yang sangat menyedihkan.

"Hei tukang hasut, sepertinya keadaan ini tidak imbang. Bagaimana kalau kau ganti temanmu?" ujar ZIZ. "Jangan remehkan aku!" kata Fenny. "Fen, kau mundurlah," ucap Anita memegang pundak Fenny yang terbawa emosi karena ucapan ZIZ. Fenny terdiam, lalu mundur dan pergi melalui lubang dimensi. Tidak lama kemudian seseorang muncul. "Huh, kukira siapa, rupanya... Fauzi!" Fauzi yang muncul memasang wajah meninggi. "Ayo kita habisi pengkhianat aliran Kranggan itu!" kata Anita. "Pengkhianat? Memang menurutmu arti pengkhianat itu apa?" sanggah ZIZ. Anita tak bisa menjawab. "Orang yang meninggalkan temannya," jawab Fauzi. ZIZ tersenyum. "Nah, apa selama ini kau menganggapku teman?" tanya ZIZ pada Anita. Anita tidak bisa menjawab. "Diam berarti tidak. Nah Fauzi, kau temanku kan?" tanya ZIZ. "Ehm, gimana ya...?" ZIZ melesat lalu memukuli Fauzi beberapa kali hingga tumbang. "Jawaban ragu kuanggap sebagai tidak," ucap ZIZ. Andini yang sejak tadi hanya diam mulai bicara. "Menyerah saja," ujarnya. Anita menolak untuk menyerah. "Asal tahu saja ya, kalau mengingat semua yang sudah kau lakukan padaku baik yang berefek ataupun tidak, aku tidak perlu segan untuk menghabisimu sekarang," ancam ZIZ yang sudah memegang 4 bilah mistar 30cm di tangan kiri dan sebilah mistar 60cm di tangan kanan. Anita mundur beberapa langkah karena takut. "Pengecut." Lalu tertunduk. "Aku mengalah kali ini..." ucapnya. "Mengalah ya... Habislah!" ZIZ yang ingin menyerang Anita ditarik oleh Andini. "Hah?" Andini menggelengkan kepalanya. ZIZ pun tenang. "Makhluk arogan," ucap ZIZ pada pihak kalah yang menangis lalu pergi dari sana berdua.

Qbenk dan Ibnu terus mengadu kesaktian ilmu Fisika, Kimia, dan Matematika. Serangan dari Ibnu sangat kuat, sementara Qbenk kuat di pertahanan. Pertarungan pun berlangsung seru hingga datang para member SOLID. "Qbenk, kau akan kubantu!" teriak Dicky. Ketika ingin berjalan ke samping Qbenk, Irfan sang Pangeran Arab menghentikannya. "Lihat dulu kalau mau bertindak! Itu Ibnu, SOLID juga dia!" kata Irfan. "Terus, kita harus bantu siapa?" tanya Deni. "Sudah pasti lah..." kata Gayuh yang ucapannya belum selesai. Qbenk tersenyum licik. "Ibnu! Dia kuat sekali!" Qbenk tercengang. Para member SOLID menyerang Qbenk, lalu diarak dengan konvoi di tengah lapangan 48. Ibnu yang merasa masalah sudah beres menghubungi Dozo dan mendapat jawaban memuaskan. Setelah bertemu ZIZ dan Andini, lalu didatangi Dozo, mereka berangkat untuk melanjutkan pengejaran.

"Uagh!" "Agh!" "Argh!" Berbagai macam bunyi keluar dari mulut Ardhie, David, dan Yudi yang sedari tadi disiksa Kyo. Belum selesai siksaan mereka, datanglah Herda yang juga ikut menyiksa mereka. Ajaib sekali kalau melihat Abi yang tidak diapa-apakan sementara ketiga temannya sedang menjalani siksaan seperti itu. Kali ini mereka tak berdaya. "Akan kubantu!" teriak Ovid yang mendadak muncul. Para kaki-tangan Khaled sedikit terkejut melihat kedatangannya dan berhenti menyiksa Yudi dkk untuk menghadapi Ovid. "Sial..."

Tidak terlalu jauh dari depan sana, Khaled yang dibonceng Dhidut ada di akhir Pinang Ranti Road. Khaled tertawa karena dia sudah hampir sampai di tujuan. "Berhenti disana!" Khaled terkejut melihat orang-orang berbaris menutupi jalan. Mereka adalah beberapa orang dari sektor A1 yang datang atas permintaan Dozo. Khaled pun berhenti. "Kalian itu ngapain!?" tanya Khaled. Tidak ada yang menjawab. Dari selokan di samping mereka, terdengar bunyi-bunyi aneh. Tak lama kemudian, muncul dua makhluk tak diundang. Mereka adalah Teddy dan Ari. "Teddy!" "Wah, ada Ari!" Mereka seakan pertunjukan hewan langka disana.

Tulloh, Anto, dan Chitoy bertemu Jodi di tengah perjalanan. Namun mereka harus menghadapi Awe dan Joce. "Sial..."

Tidak ada komentar: