Minggu, 21 September 2014

Zadoy Chronicle X - 15 (Last)

Teddy dan Ari yang telah bangkit setelah terinjak-injak sekian lama mengeluarkan asap hitam dari lubang-lubang di tubuh mereka. Asap hitam itu perlahan membentuk sebuah kapal besar dengan wajah Ari di depannya. Mereka berdua melompat ke atas kapal dan mulai bicara.

"Para makhluk 48, kalian akan tunduk pada Generasi Hitam!"

Teddy dan Ari mendeklarasikan bangkitnya kelompok mereka yang mereka sebut Generasi Hitam.

"Itukah orang yang kita dukung untuk jadi pemimpin?" gumam Hendi dan Robi. Mereka berdua berhenti bertarung dan pergi ke bawah kapal Teddy dan Ari. Di lain tempat Ovid dkk juga bergerak ke tempat itu. ZIZ juga kesana. Abi dan Khaled yang sempat tumbang bangkit dan mencoba untuk melawan dua penjahat itu.

"All-out battle, huh?" ujar Khaled

Teddy dan Ari menembakkan seluruh senjata mereka. Ledakan besar pun terjadi.

"Hahaha, itulah yang terjadi kalau membuat kami marah!" Teddy tertawa keras seiring peluru meriam yang dia tembakkan meluluhlantahkan bangunan di sekitar mereka.

"Jangan takut, semuanya..." kata Khaled yang tengah melihat Teddy dengan tatapan penuh keyakinan. Dia berusaha untuk membangkitkan moral yang lain agar mau ikut bertarung melawan Generasi Hitam.

"Tentu saja!" Mereka semua menunjukkan siapa diri mereka. Khaled berhasil memancing semangat mereka.

"Dengan teman sebanyak ini, tak ada alasan untuk takut," ucap Abi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat teman-temannya berdiri untuk melawan.

Khaled tersenyum. "Walaupun aku sudah putus, di tangan dan dada ini, kenangan hari-hari itu terus hidup!" Khaled mengepalkan tangan kanannya dan menaruhnya di dada sebelah kiri.

Mereka semua pun tersenyum. "Kalian pikir, kalian berdua itu apa!?" teriak mereka pada Teddy dan Ari.

"Dia sudah putus!?" kata ZIZ terkejut.

"Teman-teman, bantu aku mengalahkan mereka!" pinta Khaled. "Berikan tenaga kalian!"

Mereka semua mengangkat tangan. Semua energi mereka berkumpul di kacamata Khaled.

Teddy dan Ari terus menembakkan meriamnya. Serangan mereka difokuskan ke arah orang-orang yang tengah menghadapi mereka. Teddy melihat Khaled yang dipenuhi cahaya.

"Apapun yang kalian lakukan itu percuma!" Teddy melepas kacamatanya untuk dilemparkan ke arah Khaled.

"Takkan kami biarkan!" Abi menangkis serangan Teddy.

Ari tidak tinggal diam. Mulut wajahnya yang berada di depan kapal terbuka dan menembakkan cahaya ke arah orang-orang yang melawan mereka. "Kalian semua tidak ada apa-apanya! Menyerah saja!"

Abi dan teman-teman menahan serangan tersebut, menunggu sampai Khaled mampu memberikan serangan balasan.

"Terima kasih teman-teman. Kalian bisa mundur sekarang," kata Khaled dengan percaya diri. Energi yang dikumpulkan sudah dirasa cukup untuk mengakhiri nasib Generasi Hitam.

"Serangan penghabisan! Kacamata Autizer!" Khaled memusatkan tenaga di kacamatanya dan menembakkan seluruh energi itu ke arah Teddy dan Ari. Cahaya yang ditembakkan Ari beradu dengan serangan Khaled.

"Mereka bisa melawan Meriam Hitam andalanku!?" Ari tidak bisa menerima kenyataan kalau senjata terhebatnya mampu dilawan oleh satu orang.

"Tenang saja, aku akan membantumu," kata Teddy sambil bersiap untuk menyerang Khaled. Baru meninggalkan kapalnya, dia langsung ditahan oleh Abi dan David.

"Apanya yang Generasi Hitam?" ledek Abi.

"Kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan kami-kami ini!" seru David.

"Kurang ajar!!!" Teddy menyerang David dan Abi dengan membabi-buta sehingga kedua orang itu terpental. Tanpa ragu, Teddy langsung mencoba menghabisi dua orang lawannya.

"Terlalu cepat..."

Tubuh Teddy terpental ke atas dan menabrak kapal Generasi Hitam.

"A-apa...?"

David berhasil menyerang Teddy dengan melempar tubuh Abi yang dikeraskan. Teddy tidak terima karena dilukai oleh dua orang itu dan menyerang David. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini David dapat mengimbangi Teddy.

"Bagaimana mungkin!?"

"Kau memang kuat. Tapi ada satu kesalahanmu, kau terlalu memandang remeh lawanmu."

Listrik mengelilingi tubuh David. "Dengan ini, aku akan menyetrummu dengan penuh kasih sayang."

Mereka berdua beradu kesaktian di udara. Ledakan listrik terlihat tiap mereka saling memukul.

"Jangan buang-buang waktu lagi." Terdengar suara dari bawah. Tiba-tiba ada yang menyerang Teddy dengan cepat dari bawah. Setelah itu Teddy dijadikan bulan-bulanan oleh dua orang yang tiba-tiba muncul di sana. Sampai akhirnya Teddy dilempar ke arah kapal lagi.

"Siapa kalian...?"

Di hadapannya tampak sosok Ovid, Ardhie, dan ZIZ. "Hehe..."

"Bagaimana mungkin kalian semua bisa menyerangku sampai begini...!?" tanya Teddy yang menatap tiga orang itu dengan murka.

"Saat-saat yang pernah kita lalui bersama memang indah..." ujar Ovid.

"Bahkan aku ragu kalian saling mengenal," kata ZIZ dengan wajah tidak percaya ke arah Ovid.

"Wah, mereka saling kenal cuy, jangan salah!" kata Ardhie.

"Teddy itu temen deket dia!" tambah David.

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Teddy.

"Kau pikir hanya kau yang menguasai Teknik Kacamata?" tanya David sambil melepaskan kacamatanya dengan elegan.

"Simpan saja omong kosongmu!" Teddy mencoba bangun untuk menyerang David, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah.

David melempar kacamatanya seperti yang Teddy lakukan tadi. Hanya saja, lemparan David jauh lebih kuat sehingga kacamatanya menjadi dua dan mengunci tubuh Teddy di kapal.

Sementara itu, Khaled dan teman-teman berhasil mendorong serangan dari Ari.

"Tidak mungkin!"

Serangan Khaled bertambah kuat dan menghancurkan kapal Generasi Hitam. Dengan seluruh serangan itu, Teddy dan Ari pun takluk.

"Generasi Hitam hanya sampai di sini!"

Perang melawan dua makhluk pesugihan itu pun berakhir. Semua orang merayakan kemenangan mereka. Tidak ada yang memasang wajah lain selain wajah gembira, bahkan yang lukanya paling parah sekalipun.

"Pertarungan ini memang sudah berakhir, tapi perjalanan hidup kita belum berakhir," ucap Khaled.

"Benar, kita punya jalan masing-masing," jawab Abi.

Mereka berdua menyilangkan tangan tanda bangga akan satu sama lain.

Sementara itu...

"Kita mau kemana sekarang?" tanya David kepada Ardhie yang berjalan paling depan.

"Ada yang ingin aku ambil dari Teddy," jawab Ardhie.

"Ah, aku juga," sahut ZIZ.

"Kalau begitu aku berkumpul dengan yang lain dulu ya," kata Ovid dan meninggalkan mereka.

"Oke, sampai jumpa lagi," kata Ardhie.

Ketiga orang itu memburu harta karun milik Teddy yang memang sejak awal mereka incar.

Setelah puas merayakan kemenangan, Khaled dan teman-teman kembali ke tempat masing-masing. Perasaan senang dan bahagia tak bisa mereka tahan, air mata tanda bahagia pun mengalir begitu saja. Di bawah langit senja, mereka pun pergi menjalani jalan hidup masing-masing dengan penuh harapan.

"Sampai berjumpa lagi, kawan."

-TAMAT-

Tidak ada komentar: