Perang Praktek pun berakhir dengan menyisakan banyak duka. Semua SISWA sudah melewati tantangan itu. Itu pun tidak penting.
Dhoni, Ibnu, Dojo, dan David yang sedang bersembunyi dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Dia adalah Botem. "Siapa kau!?" tanya David. "Namaku, Botem!!! Ksatria! Budak! Hitam!" jawab Botem sambil bergaya tidak jelas. "Matilah..." Tiba-tiba tubuh Botem hancur. "Kemampuan itu... Willy dan John!" teriak David. "Lama tak berjumpa!" kata mereka berdua memberi salam. Mereka pun mengobrol santai di sebuah cafe di depan 48. "Saya kalah tender..." Pembicaraan pun terus berlangsung. "Tolong!!!" Mereka berenam terkejut mendengar teriakan minta tolong itu. "Hadi?" ucap David kaget.
"Tolong aku, kumohon!" kata Hadi meminta. "Apa yang terjadi?" tanya Ibnu. "Aku diusir dari..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Hadi sudah dimusnahkan oleh John. "Hebat sekali, orang yang dulu memburu Ovid seorang diri..." puji ZIZ yang kebetulan lewat. "Itu cerita lama," ucap John menyangkal. "Bagaimana kalau kita turut memeriahkan pertarungan yang sedang berlangsung itu?" tanya ZIZ sambil menatap pertarungan Ardhie-Jodi-Anto-Tulloh melawan Fardi-Chitoy. "Boleh juga," ujar Willy mantap. Mereka pun mengeluarkan kemampuan masing-masing dan memukuli Tulloh. "Dengan ini kasus dendeng babi hendaknya diurus polisi..." ujar Dhoni mantap. "Dia hanya Tulloh!" teriak Farid. "Kenapa dia?" tanya Ibnu. "Lenyaplah..." Farid dan Chitoy pun dilenyapkan.
"Wah, kau pengemudi yang gila..." ujar KP. "Benar... Aku memang gila... Lambat sekali aku menyetir!!!" ujar KR. Mereka berdua asik berbincang-bincang seputar mobil. Mereka berdua bertekad menjadi Jl.Pinang Ranti emperror dengan menaklukan jalan lurus Pinang Ranti. "Sepertinya kalian berdua nganggur. Iseng-iseng yuk, dari sini sampe depan, gocap!" tantang seorang pria berjubah. "OK!" Mereka berdua menerima tantangannya. GPS pun dinyalakan. Terlalu berlebihan untuk balapan di Pinang Ranti. Mesin pun dinyalakan, mereka menaklukan Pinang Ranti. Rupanya pria berjubah itu adalah Simon. Nos pun dinyalakan. Ketiga mobil itu melaju dengan kecepatan setan, tidak sampai 10 km/jam. Benar-benar gila. "Aku ingin mereka mengantar pesanan boss," ujar Hendi yang melihat balapan mereka. Nanda dan Hepi yang berdiri di sampingnya pun merasa demikian. "Boss Teddy harus dibuat puas," ujar Nanda. "Itulah kewajiban kami," tambah Hepi. Balapan itu pun terus berlanjut.
Dhoni, Ibnu, Dojo, dan David yang sedang bersembunyi dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Dia adalah Botem. "Siapa kau!?" tanya David. "Namaku, Botem!!! Ksatria! Budak! Hitam!" jawab Botem sambil bergaya tidak jelas. "Matilah..." Tiba-tiba tubuh Botem hancur. "Kemampuan itu... Willy dan John!" teriak David. "Lama tak berjumpa!" kata mereka berdua memberi salam. Mereka pun mengobrol santai di sebuah cafe di depan 48. "Saya kalah tender..." Pembicaraan pun terus berlangsung. "Tolong!!!" Mereka berenam terkejut mendengar teriakan minta tolong itu. "Hadi?" ucap David kaget.
"Tolong aku, kumohon!" kata Hadi meminta. "Apa yang terjadi?" tanya Ibnu. "Aku diusir dari..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Hadi sudah dimusnahkan oleh John. "Hebat sekali, orang yang dulu memburu Ovid seorang diri..." puji ZIZ yang kebetulan lewat. "Itu cerita lama," ucap John menyangkal. "Bagaimana kalau kita turut memeriahkan pertarungan yang sedang berlangsung itu?" tanya ZIZ sambil menatap pertarungan Ardhie-Jodi-Anto-Tulloh melawan Fardi-Chitoy. "Boleh juga," ujar Willy mantap. Mereka pun mengeluarkan kemampuan masing-masing dan memukuli Tulloh. "Dengan ini kasus dendeng babi hendaknya diurus polisi..." ujar Dhoni mantap. "Dia hanya Tulloh!" teriak Farid. "Kenapa dia?" tanya Ibnu. "Lenyaplah..." Farid dan Chitoy pun dilenyapkan.
"Wah, kau pengemudi yang gila..." ujar KP. "Benar... Aku memang gila... Lambat sekali aku menyetir!!!" ujar KR. Mereka berdua asik berbincang-bincang seputar mobil. Mereka berdua bertekad menjadi Jl.Pinang Ranti emperror dengan menaklukan jalan lurus Pinang Ranti. "Sepertinya kalian berdua nganggur. Iseng-iseng yuk, dari sini sampe depan, gocap!" tantang seorang pria berjubah. "OK!" Mereka berdua menerima tantangannya. GPS pun dinyalakan. Terlalu berlebihan untuk balapan di Pinang Ranti. Mesin pun dinyalakan, mereka menaklukan Pinang Ranti. Rupanya pria berjubah itu adalah Simon. Nos pun dinyalakan. Ketiga mobil itu melaju dengan kecepatan setan, tidak sampai 10 km/jam. Benar-benar gila. "Aku ingin mereka mengantar pesanan boss," ujar Hendi yang melihat balapan mereka. Nanda dan Hepi yang berdiri di sampingnya pun merasa demikian. "Boss Teddy harus dibuat puas," ujar Nanda. "Itulah kewajiban kami," tambah Hepi. Balapan itu pun terus berlanjut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar